Low Season Hotel Berlanjut

MENURUN : Low season membuat tingkat okupansi hotel utamanya hotel budget menurun.
.
MALANG– Low season yang dialami oleh hotel berbintang di Kota Malang juga berlaku bagi hotel budget. Tingkat okupansi hotel menurun, mulai dari Januari lalu, bahkan diprediksi berlanjut hingga Maret mendatang. Manager Amaris Budget Hotel, Zainudin mengakui jika okupansi hotel tersebut langsung turun begitu masa liburan berakhir. “Liburan berakhir awal Januari lalu, dan tingkat keterisian kamar juga ikut turun,” ujarnya. Menurut dia, setelah ikut panen tamu periode Desember tahun lalu, dengan tingkat okupansi mencapai 90 persen, Januari lalu Amaris Hotel keterisian kamarnya tersisa 60 persen saja.
Turunnya okupansi tersebut disebabkan oleh beberapa hal selain masa low yang memang menjadi jatah musiman bagi bisnis perhotelan, hingga adanya bencana alam. “Memang turunnya langsung drastis. Tamu hotel kan sebagian besar dari luar kota. Seperti Jakarta dan Kalimantan, serta beberapa daerah lain di sekitar Jawa Tengah. Sementara itu bulan Januari lalu banjir melanda Jakarta dan merembet ke beberapa wilayah lain,” papar dia kepada Malang Post. Hal itu yang mempengaruhi rendahnya okupansi hotel yang berada di Jalan Letjen Sutoyo Malang tersebut.
Terlebih, hotel tersebut juga mengusung konsep premium budget hotel, dengan fasilitas yang hampir setara dengan hotel bintang tiga. Begitu low season dipadukan dengan bencana, maka penurunan sangat terasa. Masih menurut dia, low season berkelanjutan di bulan ini. Masih ditambah dengan erupsi Gunung Kelud, membuat okupansinya kembali menurun selama Februari ini. “Bulan ini okupansinya hanya 50 persen saja. Tidak bisa berbuat apa-apa memang dengan bermain di katagori hotel budget ini,” tandasnya. Dikonfirmasi terpisah, Manager Violet Budget Hotel, Mochamad Muchsin mengakui jika low season sebelumnya memang tidak terlalu berdampak bagi hotelnya.
Namun hampir dua bulan ini cukup membuat tamu di hotelnya berkurang  “Bila low season sebelumnya atau Oktober-November tahun lalu masih di kisaran 80 persen, dua bulan terakhir ini hanya 60 persen. Okupansi terendah sejak berdiri pertengahan tahun lalu,” beber dia. Pria yang juga praktisi pendidikan ini mengakui, Februari ini sempat membaik untuk okupansinya. Begitu pertengahan bulan, kembali turun. “Begitu low seperti ini memang tidak bisa berbuat banyak, selain bermain di harga kamar sebagai satu-satunya bisnis yang kami tawarkan. Itupun tetap sesuai standar, di kisaran Rp 200.000,” jelas Muchsin. (ley/mar)