Standar Penerbangan Tinggi, Garuda Hentikan Penerbangan

MALANG – Distance Measuring Equipment (DME), instrumen navigasi penerbangan bandara Abdurrachman Saleh mengalami kerusakan. Kondisi tersebut membuat sejumlah penerbangan terhambat.
Garuda Indonesia menjadi maskapai yang memilih untuk menghentikan penerbangan sementara waktu hingga DME kembali berfungsi. Langkah ini dianggap tepat karena kerusakan perangkat tersebut bisa mengancam keselamatan penumpang.
Branch Manager Garuda Malang, Agung Prabowo mengakui bila keputusan untuk tidak mengoperasikan penerbangan dari Malang memang sesuai dengan standar operasional. “Awalnya pekan lalu pilot memberikan rekomendasi untuk tidak terbang dan mendarat di Malang dulu akibat rusaknya DME yang terjadi tengah pekan lalu,” ujarnya.
Menurut dia, Garuda sudah berhenti melakukan penerbangan Kamis (27/2) lalu di penerbangan kedua. Pada penerbangan pertama masih bisa membawa penumpang dengan tujuan Jakarta. Baru setelah itu terdapat rekomendasi, hingga akhirnya ditunda selama beberapa hari. Selanjutnya, Garuda menunggu penelitian yang dilakukan oleh pengelola bandara.
Akhir pekan kemarin sudah ada penelitian untuk DMEyang tidak berfungsi tersebut. Namun hasilnya memang masih sama, dan akhirnya Garuda menambah lebih lama penghentian penerbangan hingga akhir pekan nanti. Sehingga kini maskapai tersebut mengalihkan penumpang melalui Surabaya.
“Solusinya, kami menawarkan untuk penerbangan via Surabaya. Dalam sehari ada dua kali pengantaran penumpang ke Surabaya via Malang dengan bus. Itu alternatif yang kami berikan jika calon mau,” bebernya kepada Malang Post.
Di tempat terpisah, District Manager Sriwijaya Air Malang, M. Yusri Hansyah menuturkan bila maskapainya masih aman dan bisa melakukan penerbangan. Sebab pengelola bandara memberi kebebasan untuk tetap terbang atau tidak.
“Hanya ada pemberitahuan instrumen DME rusak dan tidak ada larangan. Sementara masih ada instrumen lain yang kami anggap masih memenuhi kriteria standar penerbangan bagi Sriwijaya,” tuturnya.
Hasilnya, Sriwijaya pun tetap normal dengan melakukan penerbangan sebanyak tiga kali sehari.
DME merupakan instrumen pengukuran di bandara, untuk mengetahui jarak antara pesawat dengan bandara. Selain DME, instrumen lain yang menjadi patokan kelayakan penerbangan yakni VOR atau Very High Frequency (VHF) Omnidirectional Radio Range. Suatu sistem navigasi yang menggunakan gelombang radio.
“Masih ada VOR yang bisa menjadi patokan untuk layak tidaknya penerbangan maskapai Sriwijaya,” jelasnya.
Yusri memang mengakui bila sudah ada pemberitahuan mengenai kerusakan tersebut dari pengelola Bandara Abd Saleh sebagai pemilik otoritas penerbangan dari Malang. Awalnya pemberitahuan pertama perbaikan berlangsung hingga Minggu (2/3) kemarin. “Tetapi diperpanjang lagi,” tegas Yusri.
Sementara itu, Sales Manager Citilink, Fajar Indra menyebutkan bila maskapainya tetap beroperasi dengan normal tanpa ada kendala. “SOP kami bebreda dengan Garuda Indonesia. Saat DME tak berfungsi, navigasi masih bisa dilakukan dengan VHF,” tukasnya.(ley/fia)