Okupansi Bergerak Lambat di Februari

MALANG – Okupansi (tingkat keterisian kamar) hotel di Kota Malang selama Februari kemarin masih rendah. Rata-rata hotel berbintang menggapai okupansi di bawah 70 persen, sekalipun sudah meningkat bila dibandingkan dengan Januari 2014.
General Manager Secretary and Public Relation Santika Premiere Hotel Malang, Yessi Puspitasari mengungkapkan, Februari lalu okupansinya sebesar 68 persen. “Okupansi memang belum maksimal untuk bulan lalu, tetapi sudah lebih baik ketimbang bulan sebelumnya,” ungkapnya.
Dia menyampaikan untuk bulan pertama di 2014 ini okupansinya sebesar 65 persen saja. Pada bulan tersebut penurunan memang kerap terjadi, pasalnya hotel sudah menikmati high season saat liburan akhir tahun.
“Saat Januari lalu memang sesuai perkiraan bila okupansinya akan turun. Tetapi juga tidak serendah itu,” beber Yessi kepada Malang Post.
Masih menurut Yessi, bila dibandingkan dengan periode yang sama 2013 lalu, angkanya berbeda jauh. Februari 2013 lalu okupansi hotel yang memiliki resto bernama Terracota ini mencapai 86 persen. Penurunan ini karena terjadinya bencana erupsi Gunung Kelud yang turut mengunjungi minat wisatawan ke Kota Malang selama beberapa hari. “Di Minggu terakhir Februari ini sudah mulai membaik sehingga month to datenya mencapai 68 persen,” yakinnya.
Lebih lanjut Yessi menjelaskan, dari okupansi ini menunjukkan ketatnya persaingan menggaet tamu untuk tahun ini. Terlebih, dengan munculnya hotel berbintang baru, maka tamu hotel kini harus dibagi dengan kompetitor tersebut.
Untuk periode Maret ini, dia optimis akan lebih baik dan begitu pula bulan-bulan selanjutnya hingga kembali memasuki high season pada pertengahan tahun. Strategi untuk menghadapi ketatnya persaingan dan tetap menjaga keterisian kamar ini diantaranya dengan menjalan Santika Important Person (SIP) untuk member tamu.
“Ada pemberlakuan diskon dan harga kerjasama dengan kartu kredit,” imbuh ibu satu anak ini.
Dikonfirmasi terpisah, Marketing Communication Manager Harris Hotel and Convention Malang, Nicky Olivia menuturkan, okupansinya juga masih rendah. Sama dengan hotel lain, untuk Januari faktor pakem tahunan pasca liburan merupakan penyebabnya.
“Untuk Februari, erupsi Gunung Kelud yang menghambat transportasi selama beberapa hari berpengaruh besar,” tuturnya.
Hotel yang berada di sisi utara Kota Malang ini okupansinya 60 persen saja. Tidak jauh berbeda pula ketimbang Januari lalu, peningkatannya hanya sekitar 5 persen. “Memang okupansi juga masih belum terlalu bagus, tetapi secara prosentase sudah naik,” urainya.
Menurut Nicky, untuk medio Februari banyak cancel room dari tamu setelah erupsi. Selain susah untuk transportasi, tamu merasa khawatir untuk keamanan. Namun setelah mendengar informasi aman, tamu pun mulai berdatangan lagi. Dia menguraikan bila Februari jumlah hari yang lebih sedikit, juga membuat okupansi tidak maksimal.
“Misalkan ada dua hari tambahan, bisa menambah angka okupansi paling tidak 5 persen. Sebab selama Maret ini sudah banyak reservasi sebagai bukti Malang sudah diminati kembali oleh wisatawan,” papar dia panjang lebar. (ley/fia)