Mei, ATM Bitcoin Hadir di Indonesia

JAKARTA - Kalau dibandingkan dengan di luar negeri, investasi Bitcoin di Indonesia memang belum fenomenal. Tapi melihat makin tingginya investasi Bitcoin di Indonesia, pada bulan Mei bakal hadir sejumlah kiosk Bitcoin atau automated teller machine Bitcoin (ATM Bitcoin) di Indonesia.
Oscar Darmawan, CEO Bitcoin Indonesia, mengatakan pihaknya tengah menjalin kerjasama dengan sebuah perusahaan yang bersedia berinvestasi di kiosk Bitcoin. “Rencananya akan mulai berdiri pada Mei,” ujar Oscar, kepada detikFinance, hari ini.
Kiosk itu, kata Oscar, hanya akan melayani transaksi pembelian Bitcoin, bukan jual beli. Sehingga, dengan begitu kiosk tidak akan melanggar hukum. Analoginya, ujar dia lagi, adalah seperti mesin yang menjual minuman.
Bitcoin, kata Oscar, seperti pernyataan Bank Indonesia, memang bukanlah mata uang atau alat pembayaran yang sah. Tapi Bitcoin bisa menjadi alat tukar, seperti pulsa. “Kita sekarang bisa membeli sesuatu dengan pulsa kan?” ujarnya.
Baru diperkenalkan pada 6 bulan yang lalu, nilai transaksi Bitcoin di bitcoin.co.id, salah satu situs jual-beli Bitcoin, diperkirakan telah mencapai Rp 200 juta per hari atau sekitar Rp 5 miliar per bulan. “Target kami per hari Rp 1 miliar,” kata Oscar. Dia bilang, meski nilainya masih kecil, prospek Bitcoin di Indonesia masih sangat cerah.
Sejumlah kontroversi sempat menaungi Bitcoin selama beberapa pekan terakhir. Dimulai dari bangkrutnya Mt. Gox, sebuah perusahaan penukaran Bitcoin asal Jepang pada akhir Februari. Padahal 30 persen transaksi Bitcoin dunia dilakukan di perusahaan itu.
Baru-baru ini giliran Flexcoin yang bangkrut. Perusahaan ini memang tak sebesar Mt. Gox. Namun situasi ini tak urung menimbulkan tanda tanya akan ketangguhan Bitcoin sebagai alat tukar.
Oscar menepis kekhawatiran akan ketidakamanan Bitcoin, terkait dengan bangkrutnya dua perusahaan penukaran Bitcoin di Jepang dan Kanada. Dia bilang sampai saat ini protokol dan jaringan Bitcoin adalah yang teraman, bahkan lebih aman dari jaringan kartu kredit.
“Biasanya yang bisa diserang adalah website perusahaan penukaran atau email pemilik Bitcoin, sedangkan secara teknis IT security, jaringan Bitcoin itu belum ada yang bisa menembus,” kata Oscar.(dtc/fia)