Sebulan, Load Factor Kalstar 70 Persen

MALANG – Satu bulan mengoperasikan rute Malang – Kalimantan (Balikpapan dan Banjarmasin), Kalstar mampu membukukan angka load factor (tingkat keterisian pesawat) di angka 70 persen.
Branch Manager Kalstar Aviation Malang, Samsu Riswanto menuturkan, angka keterisian tersebut cukup tinggi namun belum sesuai dengan target yang dipasang manajemen yaitu di angka 80 persen.
Salah satu faktor penyebabnya adalah operasional rute baru tersebut dilakukan pada saat penerbangan di Malang memasuki periode low season mulai Januari hingga Maret.
“Kecuali tujuan Jakarta, setelah liburan sekolah berakhir penerbangan pun mengalami masa sepi. Kalstar ini membuka rute baru juga ketika low season, jadi raihan di bulan pertama ini sudah terhitung bagus,” beber dia kepada Malang Post.
Lalu, pertengahan Februari lalu penerbangan dari Malang ke kota lain sempat terganggu erupsi Gunung Kelud. Selain otoritas bandara yang menutup penerbangan demi keamanan, penumpang memang terkesan menahan diri. Tidak hanya ke Kalimantan, load factor ke Jakarta pun mengalami penurunan.
Dia mengungkapkan, terkait masalah erupsi lalu, Kalstar harus berhenti terbang selama seminggu. Selanjutnya, ketika radar di bandara mengalami masalah, Kalstar kembali menunda penerbangan.
“Februari lalu kami hanya terbang selama 19 hari saja. Sebab, pesawat sempat tertahan di Solo,” urainya.
Sementara itu, untuk Maret ini Kalstar menargetkan peningkatan load factor sebesar 5 persen. Bulan ini, di tengah kembalinya harga tiket mulai dari Rp 595 ribu, maskapai yang berkantor pusat di Serpong ini mematok angka 75 persen untuk load factor.
“Sepuluh hari pertama ini maintenance di kisaran 70 persen. Naik ketika akhir pekan,” tandasnya.
Terpisah, District Manager Sriwijaya Air Malang, M. Yusri Hansyah juga mengakui jika pada Februari lalu terjadi penurunan load factor. Erupsi Gunung Kelud yang menngancam keselamatan penerbangan membuat otoritas bandara dan maskalai memutuskan untuk tidak beroperasi selama beberapa hari.
“Keterisian Sriwijaya 92 persen saja, biasanya kan di atas 95 persen,” sebut Yusri. (ley/fia)