BI Rate Tetap, IHSG Diprediksi Masih Melesat

MALANG – Pasar modal dan perekonomian  mengindikasikan pergerakan kea rah yang positif. Hal ini terlihat dari penguatan Rupiah terhadap dolar Amerika. Banyak pengamat ekonomi menjadikan pencapresan Jokowi sebagai faktor utama yang mempengaruhi hal ini. Diprediksi, pekan ini IHSG juga masih menunjukkan trend positif, selain faktor tersebut, namun juga ada faktor lain yang turut mempengaruhi.
Branch Manager SucorInvest Malang, Kartono mengakui dua hal utama yang membuat sentimen positif. Selain pasar yang menunjukkan respon faktor presiden, keputusan Bank Indonesia juga berpengaruh.
“Bank Indonesia tidak menaikkan suku bunga acuan yang sempat menimbulkan ketakutan investor juga berpengaruh pada menguatnya nilai tukar Rupiah, juga IHSG yang melesat,” ujarnya.
Menurut dia, sebelumnya sudah ada wacana BI Rate akan kembali naik. Ketika keputusannya tetap di 7,5 persen, pasar memandang positif dan menjadikan fundamental kenaikan IHSG. Hal itu sudah ditunjukkan ketika tengah pekan lalu, tepatnya Kamis (13/3) IHSG juga melesat 41 poin dan kemudian berlanjut di hari selanjutnya.
“Jadi lebih tepat bila disebut dua faktor yang mempengaruhi. Masa jenuh setelah naik yang menimbulkan profit taking telah terjadi akhir pekan sebelumnya. Akhir pekan lalu dan pekan ini peluang untuk semakin melesat,” beber pria yang akrab disapa Nando ini.
Dia memprediksi, pekan ini pasar saham juga akan semakin bagus. Apalagi, rencana kemunculan Wika Beton di awal bulan yang siap go public di lantai bursa. Sejak 4 Maret lalu Wika Beton sudah melakukan book building, dengan menjadikan beberapa sekuritas sebagai penjamin emisi. “Termasuk SucorInvest dan Mandiri Sekuritas. Penawarannya berakhir hari ini dengan harga masih sangat rendah dan siap menjadi buruan investor,” tegasnya.
Nando juga takjub ketika terjadi lonjakan luar biasa di bidang perekonomian. Sekedar diketahui, akhir pekan lalu IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (14/3) sore, melanjutkan penguatan hingga 152,48 poin (3,84  persen) ke posisi 4.878,64 dan disertai penguatan rupiah 11 poin ke Rp11.375 per dolar AS.
“Posisi ini tertinggi di tahun 2014, dan mematahkan prediksi pengamat ekonomi sebelumnya. Malahan, posisi maksimal IHSG masih di angka 4791 pada prediksi sebelumnya,” papar dia panjang lebar. (ley/fia)