Wisatawan ke Malang Beresiko Merosot Tajam

MALANG – Keputusan pemerintah untuk menaikkan tarif wisata ke Gunung Bromo dan Semeru tidak luput dari perhatian pelaku bisnis di Malang Raya. Ketakutan mengenai turunnya angka wisatawan, khususnya wisatawan asing ditakutkan pula merembet pada menurunnya pemasukan ke bisnis pariwisata seperti hotel maupun restoran.
Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Jawa Timur, Dwi Cahyono mengakui bingung mengenai keputusan itu. “Entah apa dasarnya, yang jelas ini merugikan untuk promosi pariwisata daerah Jawa Timur dan juga merambah ke Malang,” ujarnya.
Berdasarkan PP Nomor 12 Tahun 2014, harga tiket wisatawan domestik yang semula hanya Rp 10 ribu naik menjadi Rp 37.500 di hari biasa. Nominal tersebut makin naik di hari libur menjadi Rp 67.500. Sedangkan harga tiket bagi wisatawan asing yang awalnya sebesar  Rp 72.500 melonjak menjadi Rp 267 ribu di hari biasa dan Rp 640 ribu pada hari libur.
Kenaikan tarif tiket masuk hingga 300 persen dari harga semula itulah yang dianggap sangat merugikan para pelaku pariwisata. “Kenaikan tarif ini bisa berdampak negatif bagi promosi, industri wisata dan masyarakat Tengger, karena bisa menurunkan jumlah wisatawan yang merasa harga tiket terlalu mahal,” ujarnya.
Ia menuturkan, pada 13 Februari lalu, BPPD sudah berkirim surat mengenai keputusan ini. Paling utama bertanya soal dasar kenaikan. Belum lagi, kenaikan ini berpengaruh pada kenaikan item lainnya, seperti adanya charge kamera, video yang naiknya juga sangat tidak relevan. Selain itu, BPPD juga berusaha menjelaskan mengenai potensi penurunan di bidang pariwisata.
BPPD khawatir wisatawan akan mengalihkan lokasi wisatanya ke daerah lain yang harganya lebih terjangkau. Bahkan dari travel agen sudah memberikan keluhan.
“Wisata ke negara lain lebih murah. Misalnya ke Thailand. Bisa jadi wisatawan asing membatalkan rencana perjalanan ke Indonesia,” beber dia kepada Malang Post.
Hal ini bisa berlanjut pada turunnya kunjungan ke wilayah singgah sebelum Bromo. Tidak hanya Malang, Surabaya dan Kota Batu juga berpotensi turun kunjungan wisatawannya. Tercatat, tahun lalu sedikitnya 40 ribu wisatawan asal luar negeri datang ke Jawa Timur, dan 95 persen menuju Bromo. Dari total 40 ribu itu, setidaknya 25 persen singgah di Malang atau Batu.
“Di situ bisa terlihat potensi penurunan untuk restoran, pusat oleh-oleh hingga hotel. Kita tunggu saja awal Juni nanti, hasilnya bagaimana,” urai Dwi.
Sejalan dengan Dwi, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Kota Malang, Herman Soemarjono juga menyayangkan hal ini. Apalagi, di tengah bermunculannya banyak hotel, persaingan menjangkau tamu juga semakin besar.
“Bila tahun lalu saja berat menggapai tamu, dan beberapa dari wisatawan yang hendak ke Bromo atau Semeru, entah bagaiman bila keputusan ini sudah resmi,” bebernya. (ley/fia)