Ekonomi Bertumbuh, Ketimpangan Juga Tinggi

MALANG – Kinerja makro ekonomi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan hasil yang menggemberikan. Pertumbuhan di atas 5 persen berhasil digapai. Namun demikian, peluang ketimpangan semakin lebar, dan tahun 2013 mencatatkan rasio 0,41 persen. Hal tersebut tersampaikan dalam acara yang diselenggarakan oleh International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) di Hotel Regents, kemarin.
“Pertumbuhan ekonomi memang mencatatkan angka yang menggembirakan. Tetapi sejalan dengan itu, rasio ketimpangan di berbagai sektor, termasuk eknomi semakin besar,” ujar Program Officer Poverty and Inequality Infid, Siti Khoirun Nikmah. Percepatan ketimpangan yang terjadi karena faktor penilaian. Misalnya saja sektor pembangunan, dimana yang tampak di jalan raya penting untuk didahulukan. Padahal, sektor di dalam juga perlu.
“Di wilayah desa contohnya, di sana kegiatan ekonomi juga besar. Ada pasar tradisional yang transaksi ekonomi juga besar. Kesannya, pasar tradisional dibiarkan kumuh,” urainya. Selain itu masalah gender juga masuk di dalamnya. Sebagai bukti, pemecatan buruh pabrik sering mendahulukan yang perempuan. Stigmanya, manfaat buruh perempuan di anggap rendah.
“Hal inilah yang disebut ketimpangan, dan koefisiennya besar. Berbahaya bila terus berlanjut,” terang Siti. Sementara itu sebelumnya, dihimpun dari anggota jaringan Infid di Malang, yakni Rumpun Malang menyebutkan bila pertumbuhan pendapatan daerah di Kabupaten Malang justru menurun. Ketua Rumpun Malang, Nila Wardhani mengungkapkan, sejak 2011 lalu pertumbuhan disana sebesar 15,43 persen.
Tahun berikutnya turun menjadi 8,62 persen, dan di 2013 sebesar 4,13 persen. “Berkaca dari itu, sebenarnya tidak sepenuhnya ekonomi juga bertumbuh. Selain adanya faktor ketimpangan, dari sisi ekonomi sosial tadi. Rumpun berkaca dari hasil penelitian di Kabupaten Malang,” paparnya.
Dengan demikian dia berharap, adanya perhatian pemerintah untuk memperkecil koefisien ketimpangan di sektor perekonomian. “Itu artinya, jarak kemampuan antara orang kaya, orang menengah dan orang miskin tidak begitu jauh. Saat ini saja, di Indonesia, 40 orang terkaya di Indonesia kekayaannya menguasai 77 juta orang di negara ini,” pungkasnya. (ley/mar)