Bisnis Wisata Masih Alami Musim Sepi

MALANG –  Kunjungan wisata ke Malang Raya masih belum membaik periode Maret ini. Hal ini bisa dibuktikan dengan rendahnya permintaan perjalanan wisata di tour and travel, serta minimnya omzet di pusat oleh-oleh. Owner King Travel, Bernardus Dicky mengakui, jika travelnya masih sangat sepi hingga pertengahan Maret ini. “Dua bulan ini untuk travel mengalami masa low season (musim sepi). Tetapi paling parah Februari lalu,” ujarnya. Menurut dia, volume pemakaian dan omzet travelnya masih rendah.
Februari lalu penurunan terjadi sangat drastis mencapai 60 persen ketimbang Januari. Perhitungannya, dari total 39 armada yang dia miliki, hanya terpakai separuhnya saja. Baik itu untuk tujuan wisata ke Kota Batu, ke Gunung Bromo hingga travel penumpang ke Bandara Juanda. Maret ini memang sudah membaik, namun angka peningkatannya baru sekitar 10 persen saja.  Itu artinya, armadanya juga masih banyak yang menganggur.  Padahal, saat Januari lalu average volume yang digapai dari total armada mencapai 80 persen.
“Low season memang Februari hingga April, ketika minim masa liburan sekolah. Namun, tidak serendah ini juga biasanya,” papar dia. Pria yang berdomisili di Karangploso ini menyebutkan, ketika permintaan wisata meningkat, maka semua armadanya akan keluar. Untuk Maret ini dia memprediksi secara keseluruhan masih rendah untuk volume perjalanan armadanya.  “Masih low, selain itu masih sering hujan dan menjelang pemilu jadi belum berharap banyak,” tegas Dicky.
Hal yang sama diakui oleh ticketing Praktis Travel, Fathur Rahman. Dia mengungkapkan, bila Februari lalu hasilnya turun 30 persen. Sementara Maret ini, belum menunjukkan tanda perbaikan. “Hingga tengah bulan masih sepi. Paling yang sudah membaik untuk permintaan travel ke Surabaya,” beber dia kepada Malang Post. Selain itu, Manajer Operasional Sananjaya Oleh-Oleh, Machmud Ariad mengungkapkan omzetnya juga masih turun. Kebetulan, di tempat itu sering menjadi jujukan bagi wisatawan yang baru pulang dari Gunung Bromo.
“Terakhir ramai Januari lalu. Setelah itu sepi,” urai Machmud. Bila normal, omzet harian Sananjaya di kisaran Rp 5 juta. Sementara ketika peak season atau banyak wisatawan, omzetnya bisa menembus Rp 12 juta per hari.  Kenyataannya, Februari-Maret ini hasilnya belum mencapai Rp 5 juta per hari. “Memang masih sepi, apalagi tidak ada kunjungan ke Bromo. Semoga bulan depan sudah membaik,” harap Machmud.  Sebelumnya, beberapa hotel juga mengakui bila okupansi masih rendah. (ley/mar)