Pesta Politik Hambat Penyaluran Kredit

MALANG — Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Malang Kawi berhasil menyalurkan kredit mencapai  Rp 1,9 triliun selama 2013 lalu. Angka tersebut tumbuh 40 persen ketimbang tahun sebelumnya.
Pemimpin Cabang BRI Malang Kawi, Sulaeman Tahe mengatakan, pertumbuhan kredit sebesar itu karena memang permintaan debitur besar. Meskipun secara umum pada tahun lalu kondisi ekonomi makro mengalami pengetatan.
“Bila ada permintaan dan analisisnya layak didanai, tentu saja kami tidak bisa menolak,” katanya.
Sekalipun total pinjaman sebesar itu, dia memastikan angka non performing loan (NPL) masih terjaga. Sebab, NPL dicatatkan hanya 1,4 persen dan membuktikan bahwa analisis sebelum menyalurkan kredit juga bagus.
Sementara untuk penyaluran, dia mengakui sebagian besar di sektor perdagangan yang jumlahnya mencapai 70 persen. Selanjutnya pada bidang pertanian sebesar 20 persen dan sisanya dari sektor properti serta jasa. “Perdagangan ini termasuk pula penyaluran kredit mikro yang paling dominan. Sebab di Malang ini banyak usaha kecil dan menengah,” beber dia kepada Malang Post.
Ketika disinggung mengenai penyaluran kredit pertanian, pria asal Sulawesi Selatan ini mengakui nasabahnya tidak terkena dampak erupsi Gunung Kelud beberapa waktu lalu. Untuk wilayah Pujon, Ngantan dan Kasembon sudah berada di bawah naungan BRI Malang Sutoyo. “Ada satu atau dua debitur yang memiliki lahan di sana, tetapi tidak ada masalah mengenai kelangsungan pembayaran,” imbuhnya.
Namun dia memastikan, penanganan kredit untuk wilayah terdampak erupsi Gunung Kelud bisa cepat teratasi. Pasalnya, BRI sudah pernah mengalami hal serupa ketika penanganan kredit korban erupsi  Gunung Merapi. “Tinggal copy paste saja sistemnya untuk relaksasi kredit,” ujar dia.
Menurut Sulaiman, pertumbuhan penyaluran kredit di BRI Malang Kawi tahun ini diprediksi tidak terlalu besar, terutama bila dibandingkan penyaluran kredit 2014 yang tumbuh 40 persen. Dia menargetkan pertumbuhan hanya 17 persen. Alasan utamanya, akan terjadi perlambatan ekonomi dan penyaluran kredit di tahun ini karena faktor politik. Misalnya pemilu legislatif dan pemilihan presiden.
Adanya momen tersebut, maka bank lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit agar dana yang dikucurkan ke nasabah tidak digunakan untuk kegiatan Pemilu sehingga berpotensi macet dan justru mendongkrak angka NPL. (ley/fia)