Rasa Konsisten Sejak 1919

MALANG – Jangan mengaku pecinta kuliner, jika Anda belum mencicipi menu-menu di Warung Lama H. Ridwan. Bagi masyarakat Kota Malang, warung sederhana ini adalah ikon kuliner legendaris yang rasanya mampu menyatu dengan selera masyarakat di setiap dekade. Lokasi Warung Lama H. Ridwan mudah ditemukan. Dari pintu masuk pasar, Anda harus melalui anak tangga ke lantai dasar. Posisi tepatnya dapat ditanyakan kepada pedagang maupun pembeli di pasar tersebut, karena nyaris seluruh pedagang di sana mengenal warung legendaris ini.
Sesuai namanya, Warung Lama H. Ridwan ini sudah berdiri sejak 1919 silam. Jauh sebelum kemerdekaan dan saat Kota Malang masih berusia lima tahun. Kepemilikannya bergulir dari pendiri pertama, H. Ridwan, kepada sang anak, H. Imam Dasoeki hingga 1991. Hingga saat ini, ketika usia warung ini sudah menginjak 95 tahun dan dikelola oleh generasi ketiga, H. Yusuf Bachtiar, menu-menunya tetap bertahan seperti dulu, saat ia masih dikelola oleh H. Ridwan.
“Saat itu, kakek saya menjual Nasi Rawon dengan memikulnya. Baru setelah Pasar Besar ini dibangun pada tahun 1925, beliau pindah ke tempat ini dan menambah beberapa menu lain,” ujar Yusuf.
Di awal berdirinya Warung Lama di dalam pasar, lanjut Yusuf, H. Ridwan hanya menjual Gule, Rawon, Kare Ayam dan Sate Daging. Hingga saat ini, Yusuf menambah sajian dengan beberapa menu lain seperti Nasi Bali, Krengsengan, dan Soto Daging. Semua menu tersebut selalu ludes sebelum petang, terutama sate daging yang terkenal dengan bumbunya yang khas.
Hal tersulit yang dikatakan Yusuf dalam menjaga legenda warungnya, adalah bagaimana menjaga citarasa menu-menunya agar tetap sama dengan resep kakeknya. Untuk itu, ia tak mau sembarangan. Tak hanya dalam memilih bahan dan bumbu-bumbu yang akan diolah, tapi proses memasaknya pun ia pasrahkan hanya kepada sang istri, Hj. Susana dibantu seorang karyawan lain.
Seperti layaknya warung legendaris, Warung Lama H. Ridwan ini tak jarang menjadi jujugan pecinta kuliner tradisional dari berbagai golongan. Lebih-lebih, harganya yang murah membuat ia tak hanya cukup dikunjungi satu kali saja.
“Pejabat-pejabat dari Ibukota banyak yang kesini, sampai saya lupa siapa saja. Sebab mereka tidak saya perlakukan berbeda. Pelayanan yang baik kami berikan kepada semua pembeli. Kalau Walikota Malang, sejak sebelum menjadi walikota sudah sering kemari,” urai ayah dari tiga putra dan satu cucu tersebut.
Melihat kesuksesan Yusuf menjaga warisan leluhurnya, tidak heran jika puluhan orang rela bergantian menikmati berbagai sajian istimewa yang diracik dengan resep rahasia turun temurun keluarga H. Ridwan. Yusuf berkomitmen untuk terus menjaga kelestarian makanan tradisional yang ada di warungnya dengan mewariskannya kepada putri bungsunya, Istiada Rahmawati.
“Di usia Kota Malang yang genap satu abad ini, kami harap moderisasi tidak menggerus tradisi leluhur. Modern boleh, tradisi harus tetap lestari. Termasuk pasar tradisional dan makanan di dalamnya. Untuk itu, perlu perhatian yang intensif dari pemerintah kota, agar pasar tetap lestari,” urainya panjang lebar. (ily/fia)