Hotel Tugu Angkat Kemegahan Batik Nusantara

MALANG  - Konsisten dengan misi menggali potensi budaya lokal, Shanghainoon Boutique – Hotel Tugu Malang kembali mempersembahkan pameran batik yang kali ini akan menggelar keunikan, keistimewaan, keindahan dan rahasia dibalik kemegahan Batik Keraton, yang berawal dari ujung pulau Jawa, tepatnya Pulau Madura, kemudian  bergeser ke Keraton Solo dan Keraton Jogjakarta di Jawa Tengah dan berakhir dengan Keraton Cirebon di ujung barat pulau Jawa. Pameran kekayaan budaya Indonesia ini terutama digelar untuk menyambut hari ulang tahun Kota Malang yang ke 100, sekaligus memperingati  ulang tahun Ibu Kartini  yang  lahir pada tanggal 1 April di tahun 1879.
“Acara akan digelar mulai 12 hingga 27 April,” terang Marketing Manager Hotel Tugu Malang, Yudha Susanti kepada Malang Post.
Yudha menjelaskan, di Indonesia sendiri, batik dipercaya sudah ada sejak jaman Majapahit sekitar abad XII  yang dibuat dan dilukis di atas daun lontar, dan tumbuh berkembang dengan baik di sekitar abad 17.
“Motif batik kebanyakan masih berupa binatang ataupun tumbuhan. Seiring berkembangnya jaman, corak lukis batik merambah ke motif abstrak baik berupa awan, ralief candi, wayang dan lainnya,” rinci dia.
Hal ini menimbulkan keragaman corak batik yang keseluruhannya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah di Indonesia. Sampai dengan awal abad XX batik masih diproduksi dengan cara ‘tulis’  sedangkan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.
Batik Keraton sendiri disebut demikian adalah karena batik ini tumbuh dan berkembang di dalam keraton-keraton di Jawa dan Madura. Batik Keraton terkenal konsisten dengan pola tradisional yang terdiri dari tata susunan ragam hias serta pewarnaan khas keraton, yang merupakan perpaduan antara seni, adat, pandangan hidup, serta kepribadian lingkungan Keraton.
Pada awalnya pembuatan batik Keraton hanya dipusatkan dan dikerjakan oleh putri-putri di lingkungan Keraton saja dikarenakan budaya membatik pada saat itu dipandang sebagai kegiatan yang sarat akan nilai spiritual yang memerlukan pemusatan pikiran, kesabaran, dan kebersihan jiwa.
Hal ini terlihat dari ragam hias batik yang selalu menonjolkan keindahan abadi dan mengandung nilai-nilai dan perlambangan yang erat dengan latar belakang yang dimiliki oleh Keraton.  Jadi pada masa itu, batik hanya dikenakan oleh Raja serta Keluarga Kerajaan dan pengikutnya. Kemudian hari, oleh sebab banyak dari pengikut Raja yang tinggal diluar Keraton, kesenian batik ini pada akhirnya dibawa mereka keluar tembok Keraton dan akhirnya dikerjakan di tempatnya masing-masing.
Dalam perkembangannya, lambat laun seni Batik ini diadopsi oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang dan secara perlahan menjadi pakaian rakyat dan digemari oleh semua kalangan baik itu pria, wanita, tua maupun anak muda hingga kini telah menjadi trend di semua kalangan.
“Namun masih ada beberapa motif batik yang  khusus diperuntukkan bagi para Raja hingga kini. Sebut saja motif “Parang Barong”, yang motif parangnya berukuran 20cm. Ada juga batik Tani yang motif batiknya  disebut “Semen Rante”, motif ini berasal dari daerah Keraton Surakarta, dan dahulunya digunakan oleh para utusan Raja,” urai dia panjang lebar.
Batik Keraton yang merupakan maha karya wujud dari orisinalitas sebuah karya seni anak bangsa yang  menjadi kebanggaan bangsa Indonesia ini, kali ini ditampilkan oleh Hotel Tugu Malang melalui sebuah pameran bertajuk “The Luxury of Keraton Batik, Embroidery and Jewelry Exhibition”, dimana akan ditampilkan motif-motif dengan pakem khas dari masing-masing keraton di pulau Jawa dan Madura.
Pameran batik eksklusif yang langka  ini akan berlangsung dari tanggal 12- 27 April 2014. Keelokan motif Kereta Peksi Naga Liman khas Keraton Cirebonan, motif parang barong khas Keraton Yogyakarta – Solo, serta motif Sekar Jagad dan Ler khas Keraton Sumenep-Madura akan menjadi magnet yang memukau pengunjung pameran.
Sejurus dengan perkembangan jaman, terlahirlah karya baru  yang merupakan wujud dari kreatifitas generasi penerus bangsa atas maha karya batik tersebut, yakni batik yang dibalut dengan seni bordir nan halus dan cantik. Seni bordir sendiri adalah seni yang sangat membutuhkan kelihaian, kosentrasi tinggi serta ketelitian luar biasa dari  kreatornya. Hal inilah yang membuat batik bordir menjadi maha karya seni yang  mewah.  Dan batik bordir akan melengkapi khazanah batik yang ditampilkan selama pameran berlangsung.
“Jewelry”, yang merupakan belahan jiwa yang lekat dengan wanita, melalui beragam koleksi perhiasan perak dan emas hasil  inspirsi dari koleksi putri-putri Keraton, akan turut melengkapi pameran. Turut serta dalam mendukung misi untuk menghadirkan kemegahan Keraton dari jaman dulu ini, antara lain adalah Lenan, Salma Batik Cirebon, Melati Batik Madura, Roemah Kebaya, Asiattic Design serta Jannice Jewelry.(fia)