Hotel Pertimbangkan Kenaikan Tarif Akibat TDL Naik

MALANG – Keputusan pemerintah untuk menaikkan tarif dasar listrik (TDL) di sektor industri di tahun 2014 ini dikuatirkan membuat room rates hotel mengalami kenaikan pula untuk mengimbanginya. Bila itu terjadi, di Kota Malang pun tidak luput dari rencana perhotelan menaikkan room rates, walaupun tidak langsung berubah pasca kenaikan TDL yang mencapai 30 persen.
Sebelumnya, pemerintah memutuskan akan menaikkan TDL sektor industri secara bertahap di tahun ini. Rencananya, penaikan itu akan dilakukan mulai Mei, berlanjut ke Juli, September dan November. “Pastinya kenaikan berdampak bila itu terjadi. Mungkin tidak langsung tahun ini, tetapi saya yakin ancang-ancang sudah ada,” terang Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang, Herman Soemarjono.
Menurut dia, ada baiknya bila manajemen hotel tidak melakukan hal ini. Apalagi, bila terjadi di tahun 2014. Bukan solusi terbaik dalam waktu dekat ini.
Dia mencontohkan, pasca membludaknya hotel di tahun 2013 yang ditandai dengan kemunculan hotel-hotel besar, sudah berdampak pada hotel di Kota Malang selama tahun lalu. “Dampak banyak hotel saja membuat pembagian tamu harus lebih merata. Bahkan ada beberapa yang okupansinya sangat rendah,” terang Herman.
Bila harus berlanjut pada kenaikan room rates, maka justru merugikan hotel itu sendiri. Misalnya saja hotel A, menaikkan tariff. Tetapi hotel B yang letaknya tidak begitu jauh harganya tetap, dengan fasilitas yang bagus. “Bisa-bisa hotel itu kolaps, apalagi yang hotel tanpa jaringan deangan fundamental financial tidak sekuat hotel berjaringan. Saya rasa bukan solusi terbaik,” urainya.
Diakuinya, biaya operasional terbesar yang ditanggung oleh hotel adalah tagihan listrik. Untuk hotel berbintang tagihan listrik per bulan bisa mencapai ratusan juta.
Marketing Communication Manager Harris Hotel and Conventions, Nicky Olivia mengatakan, untuk mengimbangi kenaikan TDL tersebut, sudah ada wacana akan menaikkan tarif kamar sebesar 15 persen. “Penyesuaian tarif kamar tersebut secara resmi baru akan kami berlakukan pada awal 2015 mendatang,” kata Nicky.
Menurutnya tarif kamar tidak bisa serta-merta dilakukan mengikuti penaikan TDL sebesar 30 persen itu. Alasannya, kontrak dengan biro perjalanan atau travel maupun dengan corporate adalah tarif kamar yang berlangsung saat ini, bahkan sejak awal tahun. Sehingga, jika tarif langsung diberlakukan per Mei nanti, dikuatirkan akan melanggar kontrak kerjasama yang berjalan dalam rentang selama 2014. “Selain itu kenaikan tarif kamar yang langsung mengikuti TDL tersebut justru membuat tamu takut nantinya,”
Untuk itu, hotel yang Maret lalu genap setahun beroperasi ini akan memberlakukan dinamic prize dengan menyesuaikan jumlah okupansi. Misalkan pada pagi hari okupansi berada pada kisaran 20 persen dari total 229 kamar yang ada, maka publish rate yang berlaku Rp 498 ribu untuk tipe standar. Namun jika sampai siang atau sore hari jumlah okupansi naik di atas 50 persen, maka harga kamarnya naik di angka Rp 600 ribuan.
Cara itu adalah upaya Harris Hotel untuk menjaga tingkat okupansi rata-rata sebesar 70 persen per bulan seperti yang berhasil direalisasikan sepanjang 2013 lalu.
Terpisah, Marketing Manager Hotel Savana, Dewi Melanie mengakui, untuk 2014 ini tamu tidak perlu kuatir. Sebab, hotel yang berada di Jalan Letjend Sutoyo ini memastikan keamanan tarif dari kenaikan di tahun 2014. “Perhitungannya, tahun ini masih memakai tarif normal. Savana masih bertahan,” tegas dia.
Beberapa waktu lalu, Assistant Public Relations Manager Atria Hotel and Conference Malang, Kadek Ayu Ery Ratnawati, mengatakan naiknya TDL memang membawa dampak besar bagi biaya operasional hotel. Hanya saja, Atria Hotel belum mengambil kebijakan menaikkan harga kamar akibat TDL. Hal itu dilakukan menyusul keberadaan Atria sebagai hotel yang baru saja berdiri di Kota Malang.
“Sebagai hotel baru langkah yang akan kami ambil adalah dengan melakukan save energy. Mengingat biaya untuk listrik per hari di tempat kami mencapai Rp 9 -12 juta per hari,” terang Kadek.
Penghematan itu bakal dilakukan diantaranya dengan melakukan pemadaman bergilir di sejumlah titik yang ada, serta melakukan pemadaman di lobi di atas pukul 22.00. Selain itu, untuk mewujudkan hemat energi seperti yang dikampanyekan saat Earth Hour 2014, Hotel Atria juga mengganti dengan lampu LED. “Dalam sehari bisa hemat sampai Rp  2 juta, saat ini baru sedikit aplikasi LED lampnya,” tambah Kadek. (ley)