Pasar Modal Syariah Tak Kalah Menjanjikan

MALANG – Pasar modal memiliki konsep umum yakni pasar modal konvensional dan pasar modal syariah. Saat ini, pasar modal syariah tidak kalah menjanjikan pula dalam menawarkan benefit kepada pelaku di dalamnya, namun tetap dengan prinsip atau aturan syariah yang tidak melanggar aturan Islam tentunya.
Direktorat Pasar Modal Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muhammad Thoriq menyampaikan, perlu adanya peningkatan semangat berinvestasi secara syariah. “Pasar modal syariah ini mengusung prinsip investasi halal, aman tetapi tetap menguntungkan,” ujarnya.
Saat ini, OJK menjadi regulator ddalam hal pengawasan lembaga keuangan, termasuk pula lembaga keuangan syariah. Bila berbicara mengenai pasar modal, maka OJK juga mengawasi aser keuangan dari lembaga investasi di pasar modal. “Prinsip dasarnya Fiqih Muamalah. Bekerjasama dengan Dewan Syariah Nasional yang membidanginya sepeti Dewan Pengawas Syariah dan Tim Ahli Syariah,” beber Thoriq di sela-sela Seminar Pasar Modal Syariah, di Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, Sabtu (12/4) lalu.
Dia menyebutkan, landasan regulasi yang digunakan untuk investasi syariah sesuai dengan peraturan OJK Nomo IX mengenai Efek Syariah. “Di dalamnya ada mengenai Penerbitan Efek Syariah, tentang akad dan kriteria dari penerbitan Daftar Efek Syariah (DES),” urai dia.
Dia mencontohkan, untuk produk dan jasa syariah di pasar modal seperti saham syariah, reksadana syariah, sukuk korporasi, sukuk Negara dan layanan syariah. Saat ini, perkembangan saham syariah terus mengalami peningkatan. Per 8 April 2014 ini, jumlah saham yang masuk dalam DES sebanyak 335 saham, yang terdiri dari 328 saham pada periode November 2013 dan 7 saham insidentil. Jumlah tersebut menunjukkan berkembangnya pasar modal syariah saat ini.
Sementara itu, Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang (DJPU) Kemenkeu RI, Dahlan Slamat menyampaikan, bila instrument investasi berbasis syariah adalah sukuk Negara. Sebab penerbitanbta menggunakan prinsip fixed return, aman, dapat diperjualbelikan di pasar sekunder sesuai harga pasar dan berpotensi memperoleh capital gain. “Jumlahnya pada April 2014 mencapai Rp 34,4 triliun,” ujar dia. (ley)