Korban Erupsi Tak Terima Relaksasi Kredit

MALANG – Februari lalu, beberapa nasabah dari kantor unit BRI Malang Sutoyo menjadi korban erupsi Gunung Kelud. Keadaan ini membuat potensi kredit macet yang ditimbulkan sangat besar, mencapai Rp 21 miliar.
Wilayah unit yang terkena dampak waktu itu sebanyak enam unit, meliputi Unit Kasembon, Unit Ngantang, Unit Pujon, Unit Batu 1, Unit Batu 2 dan Unit Punten. “Dari enam unit ini bisa dikerucutkan lagi. Sebab, yang kami hitung merupakan debitur dengan potensi kredit macet terbesar,” beber Asisten Manajer Bisnis Mikro BRI Malang Sutoyo, Widodo Edy Suyoto.
Menurut dia, saat ini ada 89 debitur yang telah dianalisis kreditnya berpotensi macet. Namun, setelah diadakan pendekatan dengan nasabah, dari total Rp 21 miliar tadi bisa lebih sedikit lagi tersisa menjadi Rp 2 miliar saja.
“Jumlah keseluruhan ada 1255 debitur, baik yang ringan maupun berat,” ungkap Widodo kepada Malang Post.
Sebab, ketika BRI mencoba memberikan kelonggaran atau relaksasi kredit, walau masih dalam tahap wacana karena belum mendapatkan persetujuan dari OJK, namun debitur cenderung menolak hal itu. Debitur merasa takut justru tanggungan kreditnya semakin tinggi bila tidak segera diselesaikan.
“Hasilnya, hanya sedikit yang memerlukan bantuan kelonggaran pembayaran kredit. Yang lain sudah berangsur normal lagi. Mungkin dampaknya hanya sekitar 3 bulan pasca erupsi saja,” papar Widodo.
Dia mengaku mengapresiasi debitur yang tetap semangat menyelesaikan kewajibannya meskipun dalam keadaan sulit. Selain itu, untuk nasabah yang terhitung berat kerusakan lahan pertanian maupun peternakannya, perkiraan waktu pemulihan sekitar 6-8 bulan. Sehingga, maksimal relaksasi nantinya dipatok selama sembilan bulan.
 “Tetapi itu bagi debitur yang betul membutuhkan. BRI juga tidak bisa memaksa seandainya mereka menolak,” tandas pria ramah ini. (ley/fia)