Demand Lokal Tinggi, PE Karanglo Fokus Pasar Dalam Negeri

PT Pancamas Elite (PE), Malang, konsisten menutup pasar aksesoris pintu dan jendela dalam negeri menyusul masih tingginya kebutuhan sejenis asal impor.  Selain itu, kekuatan pabrik dalam negeri yang menyuplai aksesoris pintu dan jendela baru dikisaran angka 5 persen.
“Pasar dalam negeri masih sangat luas. Buat apa kita harus ekspor. Lebih baik konsentrasi meningkatkan kapasitas produksi saja,” kata Owner PE, Ivan Sidharta kepada Malang Post disela pembukaan Indotech Building di Grand City Surabaya, Rabu (16/4) siang.
Dikatakan Ivan, pabriknya yang berlokasi di Jl. Karanglo Singosari kapasitasnya sekarang mencapai 420 ton per tahun atau rata-rata 35 ton per bulan. Seluruh produksi itu dilempar ke pasaran dalam negeri secara merata.
“Seluruh kota di pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan sampai Papua. Kita sendiri siap meningkatkan kapasitas produksi jika order atau permintaan mengalami kenaikan,” kata Ivan yang kemarin didampingi Manager PE, Ferdy Iskandar.
Produk PE di pasaran antara lain door and window accessories (pegangan pintu/jendela), Rosette Handle (handel pintu) square handle, peralatan otomotif, peralatan furniture sampai baut berbagai ukuran dengan bahan baku zinc alloy.
Digambarkan dia, persaingan pasar asesoris pintu dan jendela di dalam negeri sekarang ini cukup ketat sekali. Derasnya alat-alat sejenis dari Cina dipasaran dalam negeri memaksa PE terus melakukan inovasi.
Masyarakat sendiri, lanjut dia, masih jauh dari mengerti terkait kualitas produk dalam negeri. Dibenak mereka, produk luar negeri yang harganya sedikit lebih murah dianggap kualitasnya sudah bagus.
‘’Padahal, pemikiran itu sebaliknya. Konsumen atau masyarakat kita masih minded  terhadap harga. Bukan soal kualitas. Karena itu perang produk ini di pasar dalam negeri cukup ketat,’’ kata Ivan, yang produknya kemarin mendapat penghargaan Himpunan Desain Interior Indonesia (HDII).
Ditambahkan dia, jalan satu-satunya untuk mengimbangi perang pasar dengan produk dalam negeri diantaranya dengan cara ikut pameran. Sebab, hanya dengan cara ini calon konsumen bisa mengeri secara persis perbedaan produk dalam negeri dan impor secara riil.
‘’Produk kita bahan baku impor dari Australia dan Korea. Sedang teknologinya digunakan diadopsi dari Gem Power Taiwan, yang dulu adalah mitra kerja kita. Kalau teknisinya murni tenaga dalam negeri,’’ pungkasnya dengan menyebut branding produknya dilabel ELT (East Lin Tiger).
Sementara itu secara terpisah Direktur PR Debindo Surabaya, Dadang menyebutkan, pameran Indo Building Technologi sekarang ini sudah memasuki kali ke 9 dengan peserta 70 stand. Selain dalam negeri, ikut pula peserta dari Australia dan Thailand.
‘’Antusias warga Surabaya dalam pameran ini cukup tinggi. Buktinya, tahun lalu jumlah pengunjung mencapai 15 ribu orang. Dan pameran kali ini dengan tenggat waktu 4 hari kami harapkan bisa mendatangkan 20 ribu pengunjung,’’ katanya.
Ditambahkan dia, pameran sejenis kemungkinan besar juga akan digelar di wilayah Malang Raya. Karena perkembangan ekonomi dan pembangunan perumahan di Malang Raya sekarang cukup tinggi.
‘’Sangat cocok kalau pameran juga digelar di Malang. Karena pembangunan perumahan di Malang sekarang ini cukup tinggi,’’ kata Dadang.  (has/fia)