Panen Raya, Malang Alami Deflasi

MALANG – Periode awal panen raya beras berdampak secara signifikan terhadap pergerakan inflasi di Malang. Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, pada April lalu, Kota Malang mengalami inflasi sebesar -0,13 persen. Dengan  kata lain, deflasi sebesar 0,13 persen.
Kasi Statistik dan Distribusi BPS Malang, Erny Fatma Setyoharini mengungkapkan, beras masuk dalam sepuluh besar komoditas yang mengalami penurunan harga bersama cabai rawit, cabai merah, tomat sayur, emas perhiasan, bawang merah, bawang putih, wortel, apel, dan tongkol pindang.
“Kota Malang masuk dalam enam dari delapan kota yang masuk dalam Indeks Harga Konsumen (IHK). Bulan lalu, hanya dua kota yang mengalami inflasi yaitu Surabaya dan Jember,” jelas Erny.
Ia melanjutkan, kendati deflasi cukup tajam, namun masih ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga, yaitu angkutan udara, tarif rumah sakit, telur ayam ras, mobil, surat kabar harian, semen, bahan pelumas, laptop, nangka muda dan minyak goreng.
Kelompok bahan makanan, yang didalamnya terdapat beras, menyumbangkan deflasi terbesar, mencapai -2.50 persen. Kelompok lain yang menyumbangkan pergerakan inflasi adalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0.01 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahban akar 0.09 persen; kelompok sandang -0.51 persen; kelompok kesehatan 1.55 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,27 persen; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 1.20 persen.
Berdasarkan data tersebut, maka di Malang terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111.85 pada Maret 2014 menjadi 111.70 pada April 2014. Tingkat inflasi tahun kalender (April) 2014 sebesar 1.37 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (April 2014 terhadap April 2013) sebesar 7.12 persen.
Erny menjelaskan, mulai Januari 2014, pengukuran inflasi di Indonesia menggunakan IHK tahun dasar 2012=100. Perubahan tersebut didasarkan pada Survei Biaya Hidup (SBH) 2012 yang dilaksanakan oleh BPS, yang merupakan salah satu bahan dasar utama dalam penghitungan IHK. Hasil SBH 2012 sekaligus mencerminkan adanya perubahan pola konsumsi masyarakat dibandingkan dengan hasil SBH sebelumnya.
SBH 2012 dilaksanakan di 82 kota, yang terdiri dari 33 ibukota provinsi dan 49 kota besar lainnya. Dari 82 kota tersebut, 66 kota merupakan cakupan kota SBH lama dan 16 merupakan kota baru. Survei ini hanya dilakukan di daerah perkotaan (urban area) dengan total sampel sebanyak 13.608 Blok Sensus dan total sampel rumah tangga sebanyak 136.080. SBH 2012 dilaksanakan secara triwulan selama tahun 2012 sehingga setiap triwulan terdapat 34.020 sampel rumah tangga.
“Paket komoditas kota Malang hasil SBH 2012 terdiri dari 372 komoditas meningkat dibandingkan dengan paket komoditas hasil SBH 2007 sebelumnya yaitu sebanyak 349 komoditas,” pungkas dia. (fia)