Daging Ayam Termasuk Penyumbang Inflasi di Bulan Mei

MALANG – Melejitnya harga daging ayam broiler hampir sepekan terakhir di pasaran dikuatirkan menghambat pergerakan deflasi yang terjadi di Kota Malang medio April lalu. Pasalnya, bila berkerlanjutan hingga akhir bulan nanti, secara otomatis akan menyumbang laju inflasi,

Kasi Statistik dan distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, Erny Fatma Setyo Harini mengungkapkan, bila terus terjadi memang berpengaruh pada pergerakan inflasi. “Bisa menyumbang inflasi bulan ini. Tetapi dilihat dulu hingga bulan depan. Sebab, harga komoditas seperti daging ayam broiler dan telur ini sering mengalami perubahan,” ungkapnya.

Menurut dia, BPS sendiri baru mengetahui melejitnya harga daging ayam setelah melakukan survey di awal pekan ini. Daging ayam broiler bersama telur termasuk dalam komoditas yang disurvey tiap minggu. Hal tersebut berdasarkan tingkat fluktuasi komoditas. “Tiga lokasi yang BPS survey, harganya juga di kisaran Rp 28 ribu per kilogram,” urainya.

Dia menyebutkan, secara histories untuk periode Mei 2013, Kota Malang tercatat mengalami deflasi 0,35 persen. “Bulan April kemarin Kota Malang juga mengalami deflasi 0,13 persen sesuai dengan masa panen raya seperti beras, cabai rawit dan sayuran antara April dan Mei,” papar dia kepada Malang Post.

Akan tetapi, ketika catatan deflasi di Mei tahun lalu, daging ayam broiler dan telur ayam broiler justru menyumbangkan angka inflasi terbesar ketiga dan keempat. “Tahun lalu daging ayam memang sebagai penyumbang inflasi di posisi lima teratas. Memang belum bisa diprediksi,” tambahnya.
Sementara itu, Manager Humas Bank Indonesia Malang, Edy Kristianto menyebutkan, di tahun lalu daging ayam broiler ini tercatat menjadi penyumbang inflasi. “Setelah tarif listrik, apel, telur ayam broiler dan daging ayam broiler,” sebutnya.

Dia memperkirakan naiknya daging ayam broiler ini karena banyak permintaan, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh beberapa pedagang ayam. Di bulan ini, juga sedang tingginya acara hajatan, yang mempengaruhi demand di pasaran. “Masih sama seperti tahun lalu sepertinya,” tambah Edy.

Salah satu pedagang ayam broiler di Pasar Mergan Malang, Fendy Ahmad juga menyebutkan, kenaikan penjualan justru terjadi ketika harga menanjak. “Dua hari ini penjualan saya lebih cepat habis,” terang dia kepada Malang Post.

Menurut Fendy, saat normal dia menjual ayam broiler sebanyak 150 kilogram per hari. Memang dia masih menambah sedikit persediaan ayamnya, yakni 20 kilogram saja. Itu pun baru hari ini, dengan harga Rp 28 ribu hingga Rp 29 ribu per kilogram.

“Bisa jadi, untuk bulan ini harga tetap mahal. Lalu turun sebentar, dan kembali mahal ketika memasuki puasa dan mencapai puncak jelang lebaran,” tukasnya. (ley)