BI Malang Mulai Kenalkan Layanan Keuangan Digital

MALANG – Surat Edaran (SE) mengenai Layanan Keuangan Digital (LKD) tengah digodok oleh Bank Indonesia. Namun saat ini, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang sudah melakukan ‘pemanasan’ pengenalan  LKD melalui program edukasi perbankan ke masyarakat khususnya yang memiliki tingkat pengetahuan perbankan rendah.
Manajer Unit Komunikasi dan Koordinasi Kebijakan Bank Indonesia Malang, Edy Kristianto menjelaskan, LKD mengarahkan masyarakat yang belum tersentuh layanan perbankan untuk bisa melakukan aktifitas perbankan tanpa harus datang ke kantor layanan bank.
“Program ini ditujukan untuk meningkatkan akses keuangan bagi masyarakat dimanapun berada, melibatkan pelaku baik dari sektor keuangan maupun non sektor keuangan,” urai dia.
LKD menggunakan beberapa media perantara seperti telepon genggam, kartu, agen, Electronic Data Capture (EDC), hingga tablet PC. Edy memaparkan, gadget menjadi salah satu perantara yang vital untuk program LKD. Pasalnya, saat ini gadget sudah menjadi bagian dari kehidupan setiap orang baik di kota maupun di desa.
“Semacam mobile banking, namun dana yang dipakai transaksi bukan dari rekening yang ada di bank, melainkan dari preload pulsa. Seperti saat ini Telkomsel dengan T-Flash,” urai dia.
Berdasarkan data BI pusat, pilot project LKD yang dilakukan pada 2013 lalu menghasilkan progress yang positif. Agen Unit Pelayanan Layanan Keuangan (UPLK) meningkat tajam dari Juni 2013 yang hanya 22 orang, menjadi 159 orang di November 2013.
Hal tersebut setara dengan perkembangan rekening di UPLK dari 63 nasabah di Juni 2013, menjadi 2395 nasabah di Oktober 2013. Adapun perkembangan transaksi didominasi oleh setoran tunai dengan nominal rata-rata menabung di bawah Rp 20 ribu.
“Selain setoran tunai, transaksi yang sering dilakukan adalah pembayaran tagihan,” imbuh dia kepada Malang Post.
Bapak empat anak ini melanjutkan, realisasi edukasi perbankan ke masyarakat sudah dilakukan pada 9-10 Mei lalu di Nongkojajar, Pasuruan. Para peserta edukasi adalah anggota KUD Setia Kawan sapi perah, petani hortikultura dan bunga-bungaan serta ibu-ibu anggota Posyandu.
“Edukasi keuangan termasuk didalamnya mengenai ciri-ciri keaslian uang Rupiah,” pungkas dia.(fia)