Maskapai Tunggu Regulasi Tarif Batas Bawah

MALANG - Maskapai penerbangan di Malang tidak terpengaruh dengan segera adanya revisi aturan dan formulasi perhitungan tarif batas atas kelas ekonomi. Pasalnya, maskapai selama ini cenderung taat mengenai peraturan.  Selama ini pula tarif tertinggi tersebut hanya terjadi pada peak season saja, sehingga pengaruhnya sangat kecil bagi perubahan load factor.
Revisi yang akan dilakukan yaitu terkait Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 26 Tahun 2010. Tentang Mekanisme Formulasi Perhitungan dan Penetapan Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.
District Manager Sriwijaya Air Malang, M. Yusri Hansyah mengakui, wacana revisi sudah didengungkan sudah sejak lama. "Sudah agak lama sih, tetapi karena banyak pertimbangan tampaknya masih belum dilakukan," ujarnya.
Menurut dia, selama ini Sriwijaya Air sudah mematuhi peraturan terkait tarif batas atas tersebut. Sehingga, seandainya ada perubahan, tinggal merubah pula angka maksimalnya.
Saat ini, untuk kelas ekonomi Malang-Jakarta, tarif batas atasnya sebesar Rp 1,3 juta.
"Ada perhitungan jarak tempuh untuk menentukan tarif paling atas. Setiap tujuan pasti berbeda. Jika dirubah tidak perlu kuatir, selama ini Sriwijaya taat," tandas dia kepada Malang Post.
Pria berkepala plontos ini mengakui, yang jadi perhatian justru faktor pengaruhnya. Sebab, yang jadi fokus perubahan ini perlu atau tidaknya tarif referensi dijadikan dalam satu aturan.
"Tarif referensi yang ditargetkan dalam aturan baru malah lebih khusus. Ketentuannya disesuaikan load factor, kinerja maskapai dan populasi pesawat. Jadi ada perbedaan antara maskapai yang sudah besar dengan armada lebih banyak pula," papar dia panjang lebar.
Namun, Yusri cenderung tertarik bila pemerintah, dalam peraturan barunya nantinya juga menyinggung batas bawah. "Agar tarifnya tidak dipasang hancur-hancuran," tegas dia.
Sementara itu, Branch Manager Kalstar Aviation Malang, Samsu Riswanto mengaku tidak mengikuti perkembangan itu. "Malah belum sampai di sini, mengenai rencana revisi ini," terangnya.
Hanya saja untuk saat ini, tarif batas atas dalam penerbangan itu sudah ditambah penerapan surcharge atau tuslah yang disesuaikan dengan harga avtur atau minyak. Penetapan tarif juga termasuk pajak, iuran wajib asuransi yang harus seizin Menteri Perhubungan.
"Selama ini untuk tarif batas atasnya harus seizin Menteri Perhubungan. Bila akhirnya melanggar, ada sanksi bagi maskapai," paparnya.
Menurutnya, untuk penentuan batas tarif sendiri, pemerintah dan maskapai memperhatikan tiga sektor utama. Yakni jarak yang berpengaruh pada avtur, sparepart untuk menjamin kenyamanan serta keamanan penumpang serta kurs Dollar.
"Jika sekarang ekonomi masih seperti ini, memang sepantasnya ada revisi," tambahnya.
Senada dengan Sriwijaya Air, maskapai yang melayani rute Malang Balikpapan dan connecting ke Berau serta Banjarmasin ini lebih concern ketika ada penentuan tarif batas bawah. "Ini yang kerap dilupakan oleh pemerintah," tegas pria ramah ini.
Padahal, apabila ada kesepakatan tarif batas bawah, untuk kelas ekonomi khususnya, bisa menghambat persaingan pemberian harga promo. "Tida wajar kan, jika dari Malang-Balikpapan harganya lebih rendah ketimbang Malang-Bali bila dilihat dari kebutuhan bahan bakar," imbuh Samsu.
Saat ini, tarif batas atas Kalstar Aviation sebesar Rp 1,52 juta. Angka tersebut belum pernah digapai, sekalipun masa liburan. "Tetapi dilihat pas lebaran nanti," tukasnya. (ley/fia)