Arsitek yang Sukses Menjadi Desainer dan Pengusaha Perhiasan

ADA benarnya ketika pepatah Jawa yang menyebutkan witing tresno jalaran soko kulino. Pepatah yang berarti cinta tumbuh karena terbiasa ini berlaku bagi Owner Logam Mulia Jewelry Malang, Bastian Daniel Tomali. Awalnya dia dipaksa dan merasa terpaksa berbisnis jewelry, namun kini dia mengakui bisnis itu merupakan passion-nya.

Bastian terkesan pemalu ketika pertama kali bercerita mengenai bisnis yang kini dikelolanya. “Jangan disebut owner lah. Sebab ini yang mendirikan orang tua saya. Jadi keturunan owner saja,” ujar dia, mengawali cerita.
Dia mengungkapkan, pertama kali terjun di bisnis perhiasan yang terdiri dari emas dan berlian tersebut. Sang ibu yang sudah merasa berumur mulai lelah untuk mengurusi Logam Mulia yang pertama kali berdiri tahun 1986 tersebut. Sejak 2010, Bastian pun mengelola dua outlet, di Matos dan MOG.
Begitu Bastian, yang kala itu masih berusia 22 tahun mengendalikan nahkoda bisnis, perubahan pun terjadi. Mulai dari teknis pemilihan barang hingga metode penjualan.
“Pemilihan berlian harus benar-benar teliti. Memperkirakan yang bisa booming atau tidak. Lalu, pelayanan kepada customer lebih bersahabat. Kami utamakan kedekatan, agar customer merasa nyaman. Dulunya kan mementingkan kuantitas dan target,” papar dia panjang lebar.
Usianya yang masih belia tidak menghalanginya untuk melayani kalangan menengah ke atas yang rata-rata sudah berusia matang sebagai penggemar perhiasan dan berlian. Memang, dia masih harus banyak belajar. Tetapi dalam tempo setahun, pria berusia 27 tahun ini sudah fasih.
“Akhirnya kan saya harus belajar. Selain itu mengikuti pendidikan atau sertifikasi mengenai berlian,” ujar pria lulusan Institut Gemologi Paramitha Jakarta tersebut.
Dia mengakui, penggemar berlian empat tahun lalu dengan sekarang sangat jauh berbeda. Waktu itu, hanya kalangan atas yang membeli perhiasan bertabur berlian. Sebab, dengan harga di atas Rp 5 juta ke atas, pasti customer dengan penghasilan tinggi yang menjadi pecintanya. Namun sekarang, sesuai dengan penuturannya, penggemar berlian kini lebih luas dan beragam.
Pria yang kerap mendesain sendiri model perhiasan di Logam Mulia tersebut menuturkan, intensitas untuk berburu perhiasan pun lebih sering. Dalam setahun, setidaknya selama enam kali Bastian hunting keluar negeri.
“Untuk mendapatkan model terbaru, harus sering melihat perkembangan di luar negeri. Terutama dari Hongkong. Bila ada pameran, harus dikejar,” tandasnya.
Ketika memilih jewelry, Bastian kini tidak cukup dengan waktu satu atau dua jam. Rata-rata, lima jam dibutuhkan baginya untuk meneliti tentang kandungan berliannya. Kualitas D, E atau F. “Seringkali ketika berbelanja sahabat saya sampai mengingatkan. Sudah terlalu lama,” terang anak kedua dari tiga bersaudara ini.
Sekali perjalanan untuk restock untuk outletnya, kurang lebih membeli 50 hingga 100 pieces perhiasan. Untuk nominalnya, dia enggan menyebutkan. “Bisa diperkirakan sendiri sih, dengan harga rata-ratanya,” tambah dia kepada Malang Post.
Pria yang sempat menempuh studi di UK Petra Surabaya jurusan Teknik Arsitek ini sekarang sangat yakin dengan pekerjaan atau bisnisnya. Berhubungan dengan aksesoris untuk fashion, menurut dia sangat menyenangkan. Bisa membuat model dengan sesuka hatinya, bisa pula menentukan pilihan bebatuannya. Tetapi tetap sesuai dengan kebutuhan dan minat dari customer.
“Untungnya seorang cowok yang berbisnis di perhiasan yakni tidak subjektif. Sebab, jika perempuan kebanyakan memilih item sesuai dengan seleranya. Masak, satu toko pilihan jewelrynya sesuai dengan selera yang berjualan. Bisa-bisa tidak laku,” papar dia lantas terkekeh.
Bastian memang enggan mengutarakan omzet kedua outletnya. Namun dia memastikan, kini sudah jauh melesat ketimbang sebelumnya. “Yang jelas ratusan juta dan terpenting bukan omzet untuk menilai, tetapi banyaknya orang yang mengenal serta terkesan dengan Logam Mulia,” tukas alumnus SMA Kolose Santo Yusup yang menargetkan penambahan satu outlet lagi di tahun 2014 ini. (STENLY REHARDSON)