Thailand Rusuh, Wisatawan Lirik Destinasi Lain

MALANG - Kerusuhan yang melanda Thailand yang terjadi saat ini, mulai berdampak pada minat perjalanan wisatawan Indonesia keNegeri Gajah Putih tersebut. Sebagian wisatawan mulai berpikir ulang, dan beberapa membatalkan liburan ke Thailand karena alasan keamanan.
Executive Director QA Holiday Tour and Travel, Kiky Andhika mengungkapkan, efeknya kini mulai terasa bagi perjalanan wisata. "Chaos atau kondisi tidak aman di Thailand mulai ditakutkan traveller beberapa hari terakhir,"  ungkapnya.
Menurut dia, paling genting memang dalam sepekan terakhir dan mulai intens diberitakan di media massa seperti televisi. Sehingga, calon wisatawan dari Malang khususnya, sudah mulai membatalkan perjalanan.
"Sudah ada dua grup dengan masing-masing 20 orang dalam satu grup batal untuk berwisata ke Thailand. Mereka cari aman saja, begitu pula dari kami," ujarnya kepada Malang Post.
Kiky mengakui, tidak bisa berbuat banyak dari keadaan tersebut dan bisa berlanjut dalam kurun waktu lebih lama. Paling tidak, untuk peak season perjalanan wisata pertengahan tahun ini, tour and travel dan juga wisatawan, harus sejenak meninggalkan Thailand sebagai acuan tempat berlibur.
Menurutnya, dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, negara seribu Pagoda ini menjadi salah satu destinasi liburan wisata favorit karena banyak objek wisata yang menarik bagi wisatawan tak hanya Indonesia namun juga dari negara lain.
"Favorit karena lokasinya bagus dan banyak pilihan, tetapi tidak perlu budget yang banyak. Itu alasan Thailand mendominasi sebagi tujuan wisatawan," urai dia.
Dia menambahkan, selain sudah ada pembatalan perjalanan, beberapa customer yang awalnya tertarik ke Thailand pun memilih tempat lain. "Kami juga memberi saran untuk tidak ke sana, biar sama-sama aman. Misalnya ke Hongkong, Singapura atau Malaysia," tambahnya.
Terpisah, Owner Arwana Travel, Roy Aldilla mengungkapkan, bila perjalanan ke Thailand dari Surabaya hanya sampai akhir Mei saja. "AirAsia memutuskan menghentikan penerbangan ke Thailand sementara waktu per 1 Juni mendatang," ujarnya.
Hal tersebut membuat perjalanan wisata ke Thailand mulai bulan depan harus melalui Jakarta. Salah satu solusinya menggunakan Royal Brunai, tetapi harus transit dulu di Brunai.
"Sepertinya memang sudah mulai parah, apalagi sejak pelengseran perdana menteri. Sehingga penerbangan pun tidak berani ke sana," urai Roy.
Akan tetapi, Arwana masih tetap menerima keberangkatan liburan ke Thailand bila customer benar-benar menginginkan kesana. Agar kondisi aman dan nyaman ketika berlibur, dengan menghindari kota rawan konflik serta mengalihkan ke lokasi lain yang lebih aman.
"Tetapi ya memang berpengaruh untuk permintaan ke Thailand. Untungnya sudah banyak yang sadar keselamatan diri dan tidak memaksa ke sana," pungkas dia. (ley/fia)