Biaya Umrah Naik hingga Rp 10 juta.

MALANG – Jelang datangnya bulan Ramadan, biaya wisata rohani ke tanah suci pun mulai mengalami kenaikan. Perubahan ini seiring dengan tingginya permintaan umrah menjelang puasa hingga selama ibadah puasa.
Kepala PT Mina Wisata Islami Kota Malang Purwaning Dyah Puspitarini menuturkan, trend umroh setiap tahunnya memang selalu melonjak begitu mendekati Ramadan. “Permintaan yang tinggi, berpengaruh pada tarif juga. Termasuk untuk tarif umrah jelang bulan Ramadan ini,” tuturnya.
Menurut dia, kenaikan ini harus dilakukan untuk menyesuaikan dengan tarif penginapan atau kamar hotel di Arab Saudi. Terutama ketika sudah memasuki masa puasa. “Peak season umroh juga terjadi pada masa itu,” beber dia.
Dyah mengakui, saat ini rata-rata tarif umrah di kisaran USD 2000 hingga USD 2500. Namun, begitu bulan Juni dan Juli, patokannya sudah di kisaran USD 3000.
“Naik sekitar 500 dollar AS,” tambahnya.
Bila dihitung dengan Rupiah, angka kenaikan biaya umrah ini mencapai Rp 5 juta. Itupun untuk kelas menengah. Belum lagi yang meminta paket perjalanan dengan fasilitas lebih bagus, bisa menembus Rp 10 juta kenaikannya.
Kendati naik, ternyata tidak memengaruhi minat calon jamaah. Menurut dia, untuk saat ini peningkatan calon jamaah sudah mencapai 50 persen, ketimbang selama bulan Mei kemarin. Padahal, jamaah sempat juga tertimpa isu virus middle east respiratory syndrome (MERS-CoV).
“Sempat terusik beberapa saat dengan adanya isu MERS-CoV. Calon peserta umrah kembali berkonsultasi ulang mengenai keamanan. Tetapi, kini sudah mulai meningkat lagi,” tambahnya.
Terpisah, Sales Counter Al Amin Universal Malang, Fitrya Nabilla mengatakan, bila tarif umroh selama Juni merupakan paling tinggi.
“Bisa mencapai USD 3750 untuk kelas VIP. Padahal, bila di luar masa tersebut, harganya masih di kisaran USD 3500,” katanya.
Terkait dengan adanya virus MERS-CoV, dia memastikan keamanan jamaah apabila sesuai dengan prosedur dan persyaratan. Seperti kesehatan dan teknik untuk terhindar dari virus tersebut.
 “Memang ada imbauan, agar biro perjalanan haji dan umrah untuk lebih memperhatikan kesehatan jamaahnya. Asalkan kondisi tubuh fit, jamaah bisa berangkat,” tambah dia kepada Malang Post.
Dia menambahkan, jamaah harus berhati-hati begitu di tanah suci. Masker wajib dipakai dengan kondisi basah. Sebab, ketika di Mekkah atau Madinah cuacanya panas dan kering. “Biar memperoleh udara yang lebih lembab, dan memakai masker tentunya terhindar dari debu yang bisa menyerang saluran pernafasan,” pungkasnya. (ley/oci)