Inflasi Malang Terbesar Kedua se-Jatim

MALANG – Setelah mengalami deflasi pada bulan sebelumnya, pergerakan sejumlah harga komoditas di pasar kembali naik pada Mei lalu. Di Malang, tercatat terjadi inflasi sebesar 0,37 persen. Angka tersebut merupakan tertinggi kedua dari 8 kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Timur, atau di bawah Jember yang mengalami inflasi sebesar 0,43 persen.
Kasi Statistik dan Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, Erny Fatma Setyoharini menjelaskan dari tujuh kelompok pengeluaran, 6 diantaranya mengalami inflasi yaitu makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau; perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar; kesehatan; pendidikan, rekreasi, dan olahraga; transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan.
“Hanya satu kelompok yang mengalami deflasi, yaitu bahan makanan,” jelas Erny kepada Malang Post.
Ia merinci, sepuluh komoditas teratas yang mengalami kenaikan harga selama Mei adalah angkutan udara, daging ayam ras, telur ayam ras, mie, cat tembok, rokok kretek filter, selada/daun selada, batu bata, kontrak rumah, dan upah pembantu rumah tangga.
Sedangkan 10 komoditas yang mengalami penurunan harga adalah cabai rawit, beras, cabai merah, bensin pertamax, bawang merah, wortel, kentang, tongkol pindang, kelapa dan minyak goreng.
Berdasarkan data yang dirilis BPS Kota Malang, inflasi sebesar 0.37 persen secara otomatis membuat Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 111.70 pada April 2014 menjadi 112,11 pada Mei 2014. Tingkat inflasi tahun kalender (Mei) 2014 sebesar 1.74 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Mei 2014 terhadap Mei 2013) sebesar 7.63 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Malang, Dudi Herawadi menambahkan, data inflasi yang dirilis oleh BPS Kota Malang tersebut menjadi indikasi bahwa Tim Pengendali inflasi Daerah (TPID) harus mulai fokus melakukan pemantauan pasar untuk memastikan harga tetap stabil.
“Sebab sebentar lagi sudah menghadapi Ramadan dan Lebaran. Jadi TPID harus mulai menyiapkan diri untuk menjaga stabilitas harga di pasar,” pungkas dia.(fia)