Saat Laris, Keluarga pun Rela Tak Kebagian Armada

MALANG - Berawal dari ikut orang dalam usaha bisnis travel, Bernardus Dicky, Owner King Travel kini boleh berbangga diri. Pasalnya, bisnisnya telah cukup punya nama, dan menjadi salah satu travel atau rent car jujukan bagi masyarakat di Kota Malang.

Karier dia di bidang jasa ini diawali tahun 2004 lalu. Selama lima tahun hingga tahun 2009, dia menjadi karyawan di travel orang lain.
"Saya benar-benar memulai usaha dari kecil," ujarnya.

Dicky mengakui, dari sana dia belajar banyak hal, terutama pelayanan. Memberikan jasa yang terbaik kepada customer, dan seminim mungkin membuat kecewa. Akhirnya, sejak 2009 hingga sekarang, King Travel yang menjadi usahanya, semakin besar.

Tercatat, travelnya kini memiliki 40 armada untuk melayani customer. Baik yang melayani travel ke bandara, city tour atau permintaan wisata.
"Tahun 2014 ini ada 40 armada. Terkadang, masih terasa kurang dengan jumlah itu," beber dia kepada Malang Post.

Dia mengakui, yang menguntungkan dari bisnis travel adalah armada atau kendaraan yang dia pakai tidak sepenuhnya milik dia. Sebab, sebagian besar merupakan mobil orang lain. Tetapi, dari sana juga menuntut kehati-hatian.
Pernah suatu ketika, armadanya hilang dibawa kabur. Pernah pula, pegawai atau supir armadanya digendam, sehingga mobilnya dibawa kabar.
"Itu tantangan, dan dari sana belajar hati-hati. Dengan standar tinggi untuk karyawan King Travel," urai bapak satu anak ini.

Dia menuturkan, bisnis yang dia jalani pun membuat dia mengenal banyak orang dengan berbagai macam sifat. Baik itu customer maupun karyawannya.

Sementara itu, banyak pengalaman unik ketika dia sudah menjadi bos ini. Misalnya, dia juga kerap mengantarkan customer sendiri meskipun memiliki anak buah.
"Saya masih sering terjun jadi supir juga," tegas dia.

Selain itu, ketika armadanya penuh untuk mengantar orang saat peak season, sampai dia harus meminjam kendaraan di sesama pebisnis travel. Hal yang jamak, untuk saling menolong seperti itu. Tetapi, ini untuk mengantar keluarganya.

"Semua terlanjur penuh, jadi harus pinjam orang lain. Seperti Penas ini, selain gak ada armada, saya juga kedatangan keluarga besar. Karena tidak ada penginapan di Malang, ya diinapkan di Batu dengan budget lebih mahal," tukasnya. (ley/oci)