Harga Kedelai Belum Normal, Produksi Turun

MALANG – Harga salah satu komoditas, yakni kedelai masih terhitung mahal. Saat ini, harga kedelai masih di kisaran Rp 8000 hingga Rp 8500 per kilogram, untuk kedelai yang bukan kualitas super.
Bendahara Primer Koperasi Tahu dan Tempe Indonesia (Primkopti) Bangkit Usaha Kota Malang, Muhammad Isman mengatakan, harga yang ada di pasar ini masih di atas harga normal, pasca kenaikan tahun lalu. “Agustus 2013 lalu, sebelum naik harganya di kisaran Rp 7200- Rp 7500 per kilogram. Itu untuk kedelai Bola Biru, yang paling digemari oleh perajim tahu dan tempe,”  katanya.
Menurut dia, sebagian besar dari perajin, memang memilih Bola Biru dan Super dengan kualitas lebih premium. Tak pelak, ketika harganya melonjak, banyak yang memilih mengurangi produksi. “Penjualan kini tidak bisa mencapai 10 ton per hari. Padahal sebelumnya, bisa menembus 15-20 ton per hari di Bangkit Usaha yang membawahi pengusaha di wilayah Sanan,” beber dia kepada Malang Post.
Isman menyampaikan, selama 2014 ini perkembangan aktivitas pengusaha tahu dan tempe juga lebih bagus ketimbang periode Agustus-Desember 2013. Pada waktu itu, setelah kedelai melejit di atas Rp 9000 per kilogram, bahkan sempat menembus Rp 10.000 per kilogram, mereka memproduksi lebih sedikit dari pada tahun sebelumnya. Dari total 348 perajin, tersisa 250 saja.
“Tetapi, di tahun ini semua sudah mulai beroperasi lagi. Paling turun kuantitas produksinya saja. Jika biasanya memproduksi 200 kilogram keripik tempe per hari, menjadi 150 kilogram per hari,” tambah Isman.
Terpisah, perajin tempe yang merupakan pemilik Melati Oleh-oleh, Umi Jumiati menyebutkan, jika di tempatnya kini memproduksi sebanyak 150 kilogram per hari. Jumlah tersebut sudah maksimal, setelah penghitungan biaya produksi yang meningkat. Hal itu tetap berlaku pula sekalipun menyambut Ramadan dan Lebaran, yang mana permintaan keripik tempe meningkat. “Pemesanan banyak, tetapi produksi kami tetap. Belum berani menambah, harganya masih mahal,” terang perempuan berkerudung ini.
Dia pun tidak berani meningkatkan target penjualan layaknya jelang Lebaran di tahun lalu. “Tahun ini, produksinya normal saja, target juga tidak tinggi, disesuaikan dengan biaya produksi serta jumlah pegawai. Rata-rata teman perajin juga begitu,” pungkasnya. (ley/han)