Terkendala Bunga KPR, Penyaluran Rumah Melambat

MALANG – Melambatnya serapan rumah sejak 2013 lalu ditengarai terpengaruh tingginya bunga kredit pemilikan rumah (KPR) dari perbankan. Bunga KPR mencapai 12 persen, sehingga target penyaluran rumah tidak tercapai, dan menambah angka backlog (tingkat kebutuhan hunian. Di Jawa Timur, angka backlog menembus 510 ribu unit.
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Real Estat Indonesia (DPP REI),  Eddy Hussy menuturkan, angka backlog perumahan untuk nasional mencapai 13 juta unit. “Dari tahun ke tahun, angka backlog semakin tinggi. Bahkan akhir 2015 nanti diprediksi mencapai 15 juta unit,” ujarnya, dalam pembukaan Musyawarah Daerah REI ke XIII di Singhasari Resort, Selasa (17/6/14) lalu.
Hal itu bisa terjadi sebab target pembangunan rumah per tahunnya selalu tidak tercapai. Pemerintah menargetkan membangun rumah 700 ribu unit per tahun. Namun, realisasi hanya 400.000 unit sehingga angka backlog terus bertambah.
Menurut Ketua DPD REI Jatim, Erlangga Satriagung, lambatnya serapan perumahan juga terjadi di Jatim, dan faktor pembiayaan menjadi kendala terbesar. “Industri properti sangat tergantung pembiayaan bank, mulai dari kredit konstruksi sampai KPR. Tingginya bunga perbankan itu berdampak ke sektor riil, dan sektor properti menjadi kelabakan,” beber dia.
Faktor lain, dari melambatnya sektor properti karena kebijakan dari Bank Indonesia (BI) tentang loan to value (LTV) yang tinggi. Masih ditambah larangan membeli rumah secara inden bagi end user yang sudah memiliki satu rumah.
Dia mengakui, perbankan sebenarnya merasa tidak nyaman dengan tidak tersalurkannya kredit, karena core business bank adalah menjual kredit. “Jika catatan penyaluran kreditnya jelek, juga tidak bagus bagi bank,” tandasnya.
Menurut Agung, tahun lalu di Jatim hanya sanggup merealisasikan 6000 unit rumah tersalurkan kepada masyarakat. Padahal, target Tim Percepatan Perumahan  pada 2013 mencapai 10.000 unit.
Sementara itu, Gubernur Jatim, Soekarwo mengatakan, bunga KPR di Indonesia jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan negara-negara lain, terutama di negara maju. Tingginya suku bunga kredit karena bank mematok net interest margin (NIM) yang tinggi, yakni di kisaran 9,1 persen. “Alasan bank mematok suku bunga kredit yang tinggi karena memperoleh dana dari masyarakat juga tinggi,” tandas dia.
Pria yang akrab disapa Pakde Karwo ini menyebutkan, ada dana idle (menganggur) di perbankan yang mencapai Rp 600 triliun pada 2013 karena tidak diserap pasar, termasuk pasar properti. Dana idle yang besar itu, membebani Bank Indonesia (BI) karena biasanya menempatkan dana tersebut ke Sertifikat BI (SBI). “BI harus mengeluarkan dana yang tidak kecil karena harus membayar bunga dari dana idle yang ditempatkan kalangan perbankan,” papar dia panjang lebar.
Tak pelak, bunga KPR menembus 12 persen bahkan bisa mencapai 16 persen. Padahala, yang realistis di kisaran 9,5 persen, dengan perhitungan riil bunga 7,5 persen dan asuransi kredit 2 persen. (ley/han)