IHSG Melemah Ikuti Tren Rupiah

MALANG - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tidak berdaya di pasar saham. IHSG melemah, mengikuti rupiah yang terpuruk sejak beberapa pekan terakhir.
“Hari ini, perdagangan terlihat stagnan. Tetapi sudah terlihat kecenderungan turun lagi,” ujar Branch Manager PT SucorInverst Abdul Gani Malang, Kartono.
Menurut dia, salah satu penyebab memerahnya saham yakni investor asing memilih untuk melepas saham. Banyak aksi jual dari investor sejak awal pekan lalu. IHSG dibuka turun tipi 2,3 poin ke level 4859,8 poin.
“Selain investor asing memiliki sentimen negatif, saham global juga tidak begitu bagus. Indonesia ini terimbas pemilihan presiden,” beber dia kepada Malang Post.
Perdagangan kemarin, IHSG sempat menuju level tertinggi yakni 4875 poin. Tetapi setelah itu, selalu di zona merah. Pada penutupan perdagangan siang hari, IHSG terpangkas 11,6 ke level 4850,5. Hingga akhirnya, pada penutupan perdagangan sore hari, IHSG anjlok 23,2 poin ke level 4838,9.
Menurut pria yang akrab disapa Nando tersebut, perdagangan  berjalan sepi, dengan frekuensi transaksi sebanyak 160.266 kali. Volume hanya mencapai 3,974 miliar lembar saham, senilai Rp 4,06 triliun. “Padahal setelah menembus level 5000 poin beberapa minggu lalu, transaksi bisa menembus Rp 6 triliun. Sebanyak 80 saham naik, 184 turun, dan 100 saham stagnan,” paparnya panjang lebar.
Sementara itu, nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali ditutup melemah di posisi Rp 12.070 per dolar AS. Sehari sebelumnya, posisi penutupan perdagangan di Rp 11.988 per dolar AS.
Menurutnya, pergerakan Rupiah memang masih naik turun, tergantung perkembangan ekonomi di Indonesia. Tetapi, pengaruh global juga membuat Rupiah terus melemah belakangan. “Pasar menilaiu lemah pemerintahan. Apalagi, ditunjang dengan pemilihan presiden yang dianggap membingungkan,” bebernya.
Nando menuturkan, investor lebih banyak yang berharap hasil instan misalnya pada neraca perdagangan. “Bila sekarang defisit, targetnya cepat membaik dalam jangka waktu cepat. Kondisi ini masih bisa terjadi beberapa hari kedepan, dan berpengaruh pula pada pasar saham,” pungkas dia.(ley/ary)