Harga Lebih Murah, Dipilih Pedagang Bakso Nakal

JAKARTA - Harga daging celeng  memang 50% lebih murah daripada daging sapi. Kondisi ini bisa dimanfaatkan oleh para pedagang bakso yang tak bertanggung jawab alias nakal. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Mie dan Bakso Trisetyo Budiman mengatakan harga daging sapi saat ini cenderung mahal dan tidak terjangkau bagi sebagian kalangan pedagang bakso.
"Ini memang ada disparitas harga yang besar antara daging sapi dengan daging celeng itu, sehingga memungkinkan orang melakukan penyelundupan. Kalau tidak salah kisarannya Rp 40 ribu - Rp 50 ribu, sapi sudah Rp 95.000-100.000," kata Trisetyo, Rabu (2/1/2014).
Pria yang biasa disapa Tri ini tak bisa memungkiri jika ada kemungkinan para pedagang bakso nakal yang mengejar keuntungan dengan membeli daging celeng untuk bahan baku bakso, karena ada perbedaan harga yang tajam. "Kalau saya justru itu tidak menutup kemungkinan," katanya.
Namun dia menjelaskan, pedagang bakso tersebut adalah oknum pedagang yang tidak bertanggung jawab. "Kalau dari asosiasi kita sudah MoU dengan MUI," katanya.
Tri mengatakan praktik penjualan daging celeng di pasar biasanya dilakukan secara sembunyi atau pasar gelap. "Itu black market, bisa saja bukan hanya untuk bakso, bisa untuk gulai, soto, itu bisa saja," tambahnya.
Sementara itu. saat memasuki bulan puasa dan menjelang Lebaran, penyelundupan daging celeng ke beberapa kota besar di Pulau Jawa termasuk Jakarta cukup besar. Volume penyelundupan daging celeng yang diamankan tahun ini saja sudah naik 200 persen dibandingkan tangkapan selama 2013.

Belakangan ini Badan Karantina Pertanian (Barantan) rutin menggagalkan upaya penyelundupan daging celeng terutama yang berasal dari Pulau Sumatera melalui Pelabuhan Bakauheni (Lampung) ke Pelabuhan Merak di Cilegon, Banten. "Kelihatannya tren penyelundupan daging celeng tahun ini terus meningkat. Apalagi saat puasa dan jelang Lebaran," ungkap Kepala Sub Humas Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian Arief Cahyono, Rabu (2/07/14).
Dilihat dari data statistik Badan Karantina Pertanian (Barantan) tahun 2013, volume yang berhasil ditangani Karantina mencapai 11.848 kg dengan frekuensi 11 kali tangkapan selama satu tahun. Adapun tahun 2014 dari Januari hingga Juni saja telah tercatat volume yang berhasil ditangani mencapai 30.786 kg dengan frekuensi 16 kali tangkapan.
Hingga saat ini karantina wilayah kerja Bakauheni telah menahan total 5,7 ton daging celeng sejak 4 hari lalu. Sedangkan pada 18 Juni 2014 lalu pihaknya telah memusnahan 13,7 ton daging celeng tidak layak konsumsi di Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Setelah proses pemusnahan terjadi, Barantan kembali menangkap 6,9 ton daging celeng yang diduga ingin dijual ke Pulau Jawa. "Karantina mengajak masyarakat untuk berperan serta dalam upaya menjamin kesehatan pangan masyarakat, terutama pada bulan puasa, dengan memberikan informasi lalu lintas komoditas pertanian yang tidak melalui prosedur karantina," jelasnya.(dtc/han)