Terlilit Hutang, PKIS Sekar Tanjung Tutup

Koesnan: Tidak Sampai Rp 60 M
SURABAYA – Pusat Koperasi Industri Susu (PKIS) Sekar Tanjung, Purwosari, dikabarkan kolaps menyusul besarnya hutang yang harus ditanggung. Diduga hutang pabrik susu yang sahamnya dimiliki oleh 6 Koperasi Unit Desa di Pasruan dan Malang itu dikisaran Rp 60 miliar.
Direktur Sekar Tanjung, H Muhammad Koesnan menyebutkan, pabriknya sementara ini memang tidak beroperasi lagi. Tetapi, tidak benar kalau hutangnya disebutkan sampai Rp 60 miliar.
‘’Nggak. Nggak sampek samono(Tidak. Tidak sampai segitu). Tapi bahwa ada kewajiban bayar hutang memang benar,’’ kata Koesnan saat dihubungi Malang Post melalui saluran ponselnya, Kamis (10/7) siang.
Dikatakan Koesnan, Sekar Tanjung sudah tidak beroperasi kurang lebih sejak empat bulan lalu. Tetapi, kewajiban membayar pesangon kurang kebih 600 karyawan sudah diselesaikan terlebih dahulu.
‘’Tidak ada masalah, karyawan kami selesaikan lebih dalu. Kalau saat itu ada persoalan antara karyawan dan manajemen sifatnya hanya miss communication saja,’’ ujar Koesnan, yang juga direktur Koperasi Susu Setia Kawan Nongkojajar.
Menurut Koesnan, tanda-tanda masalah timbul dari pabrik susu yang dioperasikan mulai 18 April 2005 ini, terjadi sejak ditinggal beberapa mitra kerjanya. Yaitu, mereka para produsen susu besar yang selama ini menggantungkan produksinya dari Sekar Tanjung.
Dalam kemitraan itu, lanjut Koesnan, menerapkan sistem kerjasama makloon (jasa pembuatan produk baik secara penuh atau satu bidang kerja saja). Mereka memproduksi susu dengan cara menggunakan peralatan yang dimiliki Sekar Tanjung. Dengan kata lain, pihaknya bertindak sebagai tukang jahit saja.
‘’Begitu pabrikan ini meninggalkan kami, otomatis putaran mesin operasi Sekar Tanjung berkurang. Akhirnya, berhenti sama sekali karena tidak ada kegiatan produksi,’’ ujarnya.
Dari data yang dihimpun MP menyebutkan, larinya para produsen susu dari Sekar Tanjung bukan karena kecewa dengan manajemen Koesnan. Sebaliknya, mereka pergi karena sudah mendirikan pabrik sendiri-sendiri.
Sebagai contoh, untuk memenuhi pangsa pasarnya PT Indo Lakto Pandaan terpaksa menyewa jasa produksi Sekar Tanjung. Tetapi, sejak pabrik barunya di Purwosari berdiri seluruh pekerjaan di Sekar Tanjung otomatis dihentikan.
Kondisi sejenis juga dilakukan PT Danone Dairy Industri yang sekarang telah mendirikan pabrik sendiri di Bandung, kemudian PT Garuda Food membangun pabrik di Rancaengkek Bandung. Begitu pula yang dilakukan PT Kalbe Farma, Cap Orang Tua Grup dan PT Greenfiled di Gunung Kawi.
Padahal berkat para mitra kerjanya itu, Sekar Tanjung minimal bisa menangguk omset kisaran Rp 2,5 miliar hingga Rp 3 miliar. Pendapatan ini diperoleh dari perhitungan kasar atas 30 juta pack susu yang dihasilkan Sekar Tanjung.
‘’Tetapi saya masih berusaha mendekati pihak Garuda Food agar bisa menggunakan kembali mesin-mesin Sekar Tanjung. Karena dari sisi ongkos produksi, untuk memenuhi pasarnya di Indonesia Timur akan lebih baik kalau diproduksi di Pasuruan,’’ ujar Koesnan.
Secara terpisah Andi Fajar Cahyono, Kabid Lembaga Dinas Koperasi Jatim menyebutkan, terpuruknya Sekar Tanjung disebabkan karena kesalahan pengelolaan yang dilakukan manajemen.
‘’Sesuai laporan manajemen ke sini (Dinas Koperasi) disimpulkan ada kesalahan manajemen mengelola keuangan. Bukan karena digelapkan tetapi salah mengestimasi peluang pasar dengan kekuatan modal,’’ paparnya.
Ditambahkan Andi, sebaiknya Sekar Tanjung segera dicarikan investor baru. Tetapi investor itu tidak dalam kapasitas membeli Sekar Tanjung melainkan kerjasama operasional. Karena, investor yang membeli otomatis akan langsung menanggung hutan manajemen lama.
‘’Karena pabrik ini lumayan terkenal dan sudah ada jaringan pemasaran, maka lebih baik sistem KSO,’’ ujar Andi dengan menyebutkan, itikad enam koperasi susu mendirikan PKIS Sekar Tanjung harus dipertahankan. (has/fia)