Jadi Jujukan Pameran Fashion

MALANG - Potensi mall di Kota Malang bisa dilihat pula dengan banyaknya even di mall tersebut. Mulai dari pameran yang diselenggarakan oleh event organizer lokal Malang, serta dari luar kota seperti Bandung, Surabaya hingga Jakarta.
Di Matos sebagai contoh. Di sana kerap menjadi area pameran fashion bagi EO dari Bandung seperti Queena, Gusindo dari Surabaya dan Kreator dari Malang.
"Pameran fashion tidak ada matinya, baik dari E0 dengan pesera tenan hingga seperti Matahari yang menggelar bazaar. Masih ada pameran lain seperti otomotif," ujar Marketing Communication Manager Matos, Rahayu Sasmita.
Dia mengungkapkan, tiap pekan pasti ada acara pameran dan dipastikan ramai. "Bila tidak, pasti sudah lari E0-nya. Apalagi, tidak sedikit dari luar kota," tegas dia.
Sasmita mencontohkan, seperti Queena memiliki jadwal 4-6 kali dalam setahun. Belum lagi dengan E0 yang lain.
Terpisah, Ina Garlina, Owner Queena Organizer mengakui, bila Matos menjadi tempat potensial. "Makanya, bolak-balik saya pameran di sini. Pecinta fashion di Malang tinggi, omzet kami juga besar," sebut dia.
Menurutnya, rata-rata dalam tiap pameran tenan yang ikut memiliki omzet antara Rp 3-5 juta per hari. Paling tinggi memang di akhir pekan, dan momen jelang lebaran seperti saat ini.
Masyarakat pun merasakan keuntungan dengan adanya ragam mall di Malang. Entah mereka yang menjadi pengunjung, maupun yang terlibat di dalamnya sebagai pebisnis yang menyewa tenant.
Owner Lia Collection, Lia Indrawati mengakui jika bisnis di mall memiliki kelebihan. "Mudah dikenal pastinya dan mudah mengikuti pameran fashion," ujarnya.
Lia memiliki dua tempat bisnis di mall, yakni di Matos dan MOG. Tak pelak, dia pun paham mengenai keuntungan dan perkembangan kunjungan. "Omzet makin bertambah, begitu pula pengunjung makin ramai," ujarnya.
Di MOG misalnya. Menurut dia, kini tingkat kunjungan sangat ramai. Walaupun tidak merubah pendapatan secara drastis, customer yang mengawali dengan windows shopping, suatu saat dipastikan kembali.
"Ketika yang mampir ke tenan makin banyak, semakin besar juga peluang untuk mendapatkan omzet yang besar. Mulai terasa, apalagi bila ikut pameran," papar dia panjang lebar.
Terpisah, Manager Humas Bank Indonesia, Edy Kristianto mengakui, sarana penyebaran bisnis bisa terjadi di mall. "Sebagai bank sentral, kami melihat hal ini bisa dijadikan sarana menyebarluaskan penggunaan uang elektronik suatu saat," ujarnya.
Hal ini didasari dengan banyaknya masyarakat yang berkunjung ke mall lebih mudah diedukasi untuk menggunakan uang elektronik, baik sisi pedagang maupun penyedia jasa. Begitu pula konsumen yang mayoritas kalangan pendidikan menengah ke atas.
Selain itu, mall juga bisa dimanfaatkan untuk hal lain. "Kalangan dunia kerja, bisa jadi memanfaatkan mall  multi fungsi. Misalnya even dan meeting," ujar dia.
Bila dilihat dari prospek ke depannya, investasi di sektor ini sangat menjanjikan dan membuat Kota Malang semakin sahih untuk menjadi kota dengan wisata belanja yang lengkap. (ley/fia)