Sarinah The Indonesian Emporium

MALANG - Momen Ramadan tahun ini, Sarinah The Indonesian Emporium Malang menandainya dengan kehadiran dua koleksi baru yakni Mea dan Arimbi. Keduanya untuk pertama kali bisa ditemukan di Sarinah, berpadu dalam target tinggi selama Juli.
Store Manager Sarinah The Indonesian Emporium Malang, Lies Sukarningsih menuturkan, bila di bulan ini kedua koleksi tersebut melengkapi aneka pilihan fashion di Sarinah. "Di store Jakarta sudah lama ada koleksi tersebut. Arimbi jadi salah satu favorit customer," tuturnya.
Menurut dia, kedua koleksi tersebut memiliki ciri khas berbeda. Untuk Mea, beberapa modelnya cocok untuk memeriahkan Ramadan. "Model seperti dress kaftan dan tunik cocok dikenakan untuk tampilan muslimah. Malahan, sekarang kaftan banyak yang suka," beber dia kepada Malang Post.
Dia menyebutkan, kaftan Mea berbahan sifon berpadu dengan kain tradisional yakni songket dari Palembang. Kesan heritage pun sangat kuat, sesuai dengan koleksi yang selalu ditonjolkan oleh Sarinah selama ini. Selain itu, beberapa model lain untuk koleksi Mea menampilkan dress berpadu batik dari berbagai wilayah di Indonesia, serta kain lurik dari Yogyakarta.
Sementara itu, untuk koleksi Arimbi lebih cenderung ke busana formal. Model ini, customer kerap mengaplikasikannya untuk dress ke kantor. "Cukup ditambah blazer maupun bolero, dress ke kantor tampak etnik," jelas Lies.
Perempuan berkacamata ini menyampaikan, dengan adanya koleksi tersebut menambah varian di Sarinah ketika menyambut Ramadan. Di bulan ini, Sarinah menargetkan pertumbuhan omset mencapai 25 persen ketimbang bulan sebelumnya. Sedangkan dibanding dengan periode yang sama tahun 2013 lalu, target bertumbuh 20 persen.
Bila dirinci, target Juli ini Sarinah mematok omset mencapai Rp 2 miliar. Sementara ketika bulan normal, omset masih di kisaran RP 1,5 miliar- RP 1,7 miliar. Menurut Lies, hingga pekan ketiga Juli, pencapaian masih cenderung belum bergairah. Pasalnya, pencapaian omset dari target baru di kisaran 50 persen. "Padahal seharusnya sudah 70 persen," tambahnya.
Dia menyebutkan, bila pencapaian yang masih rendah ini disebabkan oleh momen jelang lebaran yang bersamaan dengan tahun ajaran baru. "Sepertinya customer masih menyimpan dana serta mendahulukan kebutuhan pendidikan anak," urai Lies.
Menurutnya, baru setelah itu, atau ketika mendekati lebaran, yang mana kebutuhan pendidikan sudah jelas berapa besarnya, customer berpikir belanja kebutuhan lebaran untuk jenis fashion. "Selain itu, ketika sudah lebaran di H+2, bisa jadi customer baru berburu fashion bersama keluarga besar," pungkas dia. (ley/han)