IHSG Terkoreksi Hanya Shock Therapy

MALANG – Sektor ekonomi turut mengalami pergolakan berbarengan dengan hari pengumuman pilpres 2014 yang berlangsung Selasa (22/7) kemarin. Sempat mengalami trend positif ketika memulai perdagangan di pagi hari, akhirnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 43 poin.
“Tadi pagi tren pasar saham menunjukkan arah yang bagus. Langsung naik 14 poin dan terus berlanjut hingga 23 poin sebelum penutupan perdagangan sesi pertama,” ujar Branch Manager SucorInvest Abdul Gani Malang, Kartono.
Menurutnya, investor masih antusias ketika pagi hari. Terjadi aksi beli dari investor, tetapi pada emiten di sektor yang potensial. Pakem yang sama terus berlanjut jelang penutupan perdagangan. Pada masa itu, investor mulai melakukan aksi tunggu. Hasilnya, transaksi tercatat sepi dan IHSG mengalami penurunan.
“Penutupan perdagangan sesi pertama, IHSG turun 0,46 persen ke level 5103 poin. Setelah itu, cenderung bertahan di zona merah,” beber dia kepada Malang Post.
Pria yang akrab disapa Nando ini menyampaikan, aksi ambil untung terus terjadi ketika mendekati masa pengumuman presiden.  Hingga akhirnya terjadi keputusan mengejutkan dari Capres nomor urut 1, Prabowo Subianto menolak pelaksanaan Pilpres. “Pasar pun semakin negatif, berbalik dari trend di pagi hari,” jelas pria yang akrab disapa Nando itu.
Sambutan investor langsung terlihat, dengan maraknya aksi jual di lantai bursa. Sebab, pelaku pasar kembali dibingungkan dengan keadaan tersebut. Proses pemilu yang panjang dan terjadi kejutan di detik terakhir membuat bursa memandang negatif.
“Tadi sempat anjlok 2 persen dan menuju level terendah dalam sepekan terakhir yakni ke level 5014 poin. Sebelum koreksi dan membaik di level 5083 poin atau turun 43 poin,” terangnya.
Dia pun memprediksi, untuk sepekan ke depan masih belum begitu bagus. Selain faktor keputusan mengejutkan Prabowo, juga dipengaruhi oleh masa libur panjang saat lebaran. “Masih ada potensi kerusuhan dan libur panjang,” tegas pria asal Mojokerto ini.
Sementara itu niilai tukar Rupiah terhadap dolar AS pun ikut melemah ke posisi Rp 11.590 per dolar AS. Melemah ketimbang penutupan perdagangan awal pekan lalu pada posisi Rp 11.575 per dolar AS.
Terpisah, pengamat ekonomi Prof. Ahmad Errani Yustika menyampaikan, pelemahan Rupiah terjadi karena faktor kekagetan saja. “Hal itu wajar. Setelah sempat berharap besar pengumuman lancar dan ternyata  ada kabar mengejutkan, pelaku pasar yang heterogen memiliki cara pandang berbeda pula. Seperti shock terapi sejenak,” ujarnya.
Menurut dia, ekonomi tidak akan jatuh dalam waktu yang lama. Menurut analisis dari guru besar Universitas Brawijaya ini, dalam beberapa hari ke depan pasti ada perkembangan positif. Misalnya, tim dari pemenangan capres yang menang untuk mengadakan komunikasi politik.
“Kondisi seperti yang terjadi jelang pengumuman KPU pasti mendapat tanggapan pula dari tim yang menang. Pasti segera ada cara untuk berembug dan membawa ekonomi lebih baik,” tambah dia kepada Malang Post.
Menurut dia, kondisi Rupiah untuk beberapa waktu ke depan masih di kisaran Rp 11 ribu sampai Rp 12 ribu per dolar AS. “Memang tugas berat oleh presiden baru untuk memperbaiki sektor ekonomi. Sementara, sembari melihat kinerja di pemerintahan, Rupiah masih fluktuatif seperti saat ini. Namun arahnya positif, bila Jokowi mampu mewujudkan janji kampanyenya,” tandasnya. (ley/fia)