Pembatasan BBM Bersubsidi Tak Permanen

Penghapusan solar bersubsidi di Jakarta Pusat dimulai 1 Agustus. Selain itu, pembatasan waktu penjualan Solar bersubsidi di seluruh SPBU di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Bali mulai  tanggal 4 Agustus 2014,akan dibatasi dari pukul 18.00 sampai dengan pukul 08.00 WIB.
Tidak hanya solar di sektor transportasi, mulai tanggal 4 Agustus 2014, alokasi solar bersubsidi untuk Lembaga Penyalur Nelayan(SPBB/SPBN/SPDN/APMS) juga akan dipotong sebesar 20 persen dan penyalurannya mengutamakan kapal nelayan di bawah 30GT. Selanjutnya, terhitung mulai tanggal 6 Agustus 2014, penjualan premium di seluruh SPBU yang berlokasi di jalan tol ditiadakan.
Selain itu, koordinasi dan sosialisasi dengan Hiswana Migas serta menyiapkan pasokan BBM nonsubsidi dalam pertamax series.
Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik penerapan kebijakan ini hanya berlaku hingga akhir tahun 2014.
"Nanti ke depan akan normal lagi. 1 Januari 2015 ada kuota BBM subsidi yang baru. Ada kebijakan baru, jadi ini enggak berlaku," ucap Jero saat konferensi pers di Kantornya, Jakarta, Selasa (5/8/2014).
Jero menjelaskan, kebijakan ini diambil pemerintah untuk menyelamatkan kuota BBM subsidi agar tidak jebol hingga akhir tahun. Pasalnya jika tidak ada langkah pengendalian, BBM subsidi akan habis pada bulan Desember 2014.
"Prinsipnya niat kita untuk hemat BBM subsidi. Kalau tidak melakukan apa-apa akan habis," tegas Jero.
Menurut Jero ini penting dilakukan, karena setiap tahunnya kuota BBM subsidi terus meningkat dikarenakan pertumbuhan ekonomi serta banyaknya kendaraan yang baru.
"Tahun 2010 kuota BBM subsidi diberikan pemerintah 38 juta Kl (kilo liter), di 2012 sebesar 41 juta Kl, di 2013 sebesar 45 juta kl, di 2013 sebesar 46,36 juta, jadi setiap tahun naik, karena makin sejahtera masyarakatnya, jadi kebutuhan listrik naik kebutuhan BBM naik, sepeda motor setiap tahun 9 juta lebih, mobil 1,2 juta bertambah, kalau setiap tahun bertambah motor mobil logikanya tambah BBM," pungkasnya.(ozn/fia)