Es Krim Pakai Pot,Bisa Dipakai Ulang

Bagaimana  rasanya memakan isi pot tanaman.  Lagipula, siapa juga mau mencobanya? Rupanya hal itu dibantah oleh sekelompok mahasiswa Universitas Brawijaya (UB). Mereka membuktikan kalau isi pot tanaman juga bisa dimakan. Asalkan isinya es krim.
Mereka adalah Maziatul Umi, Ina Yunita, Rizky Amelia dan Adibah Khairunnisa Marwa, pemilik ide Fruit Pot Ice Cream atau Fru-PIC. Keempat mahasiswa angkatan 2010 ini berhasil membuat isi pot tanaman itu bisa dimakan.
Siapa saja bakal tertipu bila melihat Fru-PIC. Tampak luarnya sangat mirip pohon yang baru tumbuh, ditaruh di dalam pot berbahan tanah liat. Pohon itu ditanam di atas tanah bewarna coklat tua. Di bawah tanah itu ada es krim dengan rasa buah. Tidak hanya itu, tanahnya pun bisa dimakan. Mereka membuat tanah tersebut dari biskuit coklat yang dihancurkan, lalu menaburkannya di atas es krim sampai tertutup penuh. Agar semakin mirip dengan tanaman, ditaruhlah daun mint di atas tanah tersebut.
Ada lima macam rasa, yakni alpukat, melon, jambu nangka dan sirsak. Rasa buah yang tidak biasa untuk semacam es krim. Namun, Adibah Khairunnisa Marwa mengatakan kelima rasa tersebut ditetapkan berdasarkan beberapa pertimbangan.
Diantaranya, karena mereka ingin membuat es krim rendah lemak. Jadi mereka memilih kelima macam buah itu. Sedangkan, susunya dipilih yang rendah kalori, yakni susu kedelai. "Bahan-bahannya sudah kami pilih, jadi tidak perlu takut gendut kalau makan es krim ini," candanya.
Sejak awal, dia dan teman-temannya memang memiliki kegemaran membuat es krim. Tidak jarang terdengar bahwa es krim bisa membuat gendut. Apalagi mereka adalah wanita, jadi gendut terdengar sangat menakutkan."Muncullah ide untuk membuat es krim buah rendah lemak dan kalori. Tapi, hanya sebatas itu saja idenya,“ jelasnya. Mulailah mereka mencoba berbagai macam resep. Beruntung, salah satu anggota tim, Maziatul Umi berasal dari Fakultas Pertanian (FP). Dalam proses uji coba resep itu, Umi aktif membantu timnya untuk memilih mana bahan-bahan dengan kandungan lemak dan  kalori.  (erza)






Proses uji coba resep cukup lama, tidak jarang resep percobaan mereka gagal dan hasilnya tidak bagus. “Misalnya dari segi tekstur dan kekentalan. Beberapa buah ada yang tidak bisa menghasilkan es krim dengan tekstur yang bagus. Wah, pokoknya prosesnya lama mas, sekitar satu bulan“ tutur mahasiswa arsitektur Fakultas Teknik (FT) UB itu.
Jerih payahnya pun berbuah manis. Sekitar bulan Maret lalu, keempat mahasiswi ini menghasilkan resep yang enak. Mulailah mereka menjajakannya di berbagai kesempatan, kadang keliling, kadang buka stand di bazar kampus. Namun, saat itu masih pakai cup plastik. Respon pembeli pun baik. Es krim seharga Rp 5.000 itu laku keras.
Meski begitu, tetap saja mereka merasa kurang puas. Adibah menjelaskan, meski laku keras, keempat mahasiswa itu tetap merasa kurang puas. Mereka merasa kemasan es krim perlu dipercantik.
“Inspirasinya, ada beberapa buah yg bisa tumbuh hanya dari sebuah pot. Lalu kepikiran bagaimana kalau es krimnya di buat tampilan seperti itu juga, jadilah konsep Fru-PIC ini,“ urainya.
Bahkan, manfaatnya tidak hanya pada tampilan. Setiap menjual, mereka selalu bilang kepada pembelinya kalau pot es krim ini adalah pot asli. Jadi, selalu disarankan kepada pembeli agar memanfaatkan pot tersebut.
Menurut cerita Adibah, mereka sempat terpikirkan untuk menyertakan benih pohon, agar potnya bisa benar-benar dimanfaatkan untuk menanam pohon begitu. Sayangnya, hal tersebut belum terlaksana. “Tapi, memang kami sudah rencanakan untuk kedepannya,“ kata warga Kedungkandang, Kota Malang itu.
Rizky Amalia, anggota tim yang juga mahasiswi Arsitektur FP UB menambahkan. Dengan cara tersebut, mereka bisa mengingatkan kepada masyarakat, khususnya konsumen, bahwa produknya merupakan bagian dari hasil pertanian.
"Apalagi, Indonesia negara tropis dan hasil pertaniannya melimpah,“ jelasnya riang. Sekaligus, lanjutnya, untuk meningkatkan rasa kepedulian terhadap tanaman. Potnya bisa terpakai dan tidak terbuang.
Dengan harapan itu, wanita yang akrab disapa Meme ini berharap manfaatnya bisa meluas. Ke depannya, dia beserta teman-temannya akan berusaha mengembangkan produknya tersebut.
“Kami punnya cita-cita akan mengembangkannya dalam bentuk kedai. Itu impian jangka panjangnya,“ pungkas wanita asal Tulung Agung itu. (Muhamad Erza Wansyah)