OJK Gandeng Perbankan Edukasi Investasi Keuangan

MALANG - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memantau perkembangan bisnis investasi, salah satunya Mavrodi Mondial Moneybox (MMM). Selain itu, OJK juga tengah memaksimalkan edukasi mengenai investasi keuangan, dengan bantuan dari perbankan.
"OJK tengah meminta perbankan untuk lebih intensif dalam memberi edukasi terkait dengan investasi di bidang keuangan kepada masyarakat. Tujuannya, agar masyarakat melek investasi dan terhindar dari kegiatan investasi bodong," ujar Kepala Kantor OJK Malang, Indra Kresna
Dia mengatakan, edukasi di bidang keuangan oleh perbankan tidak hanya imbauan, melainkan kewajiban yang diatur dalam SE-OJK Nomor 1/SEOJK.07/2014 tentang Pelaksanaan Edukasi dalam Rangka Meningkatkan Literasi Keuangan Kepada Konsumen dan atau Masyarakat. “Jika bank tidak melaksanakan, maka akan ada teguran dan sanksi dari kami,” katanya.
Untuk itulah, OJK meminta bank juga segera mengajukan program edukasi masyarakat di bidang literasi keuangan paling lambat pada 31 Agustus 2014 ini. Pada 2015, kegiatan edukasi masyarakat diminta dimasukkan dalam business plan perbankan sehingga pengawasannya bisa lebih intensif lagi.
Literasi keuangan kepada masyarakat, menurutnya sangat penting dilakukan. Sebab, dengan paham tentang perbankan dan investasi, masyarakat tidak mudah terperangkap dan menjadi korban investasi bodong. "Diakui atau tidak, orang Indonesia sangat mudah tertarik dengan investasi yang menawarkan keuntungan tinggi. Tetapi, bila salah investasinya, risikonya tinggi pula. Mengacu dengan hukum investasi, produk investasi yang menjanjikan return yang tinggi maka otomatis berisiko tinggi pula." papar dia panjang lebar.
Terkait dengan praktik MMM atau lebih dikenal dengan Manusia Membantu Manusia, produk tersebut bukan merupakan produk investasi sehingga tidak ada izin dari OJK. Sampai saat ini, memang belum ada peserta MMM di Malang yang merasa dirugikan praktik produk tersebut. Hanya ada dua laporan ke OJK Malang, namun laporan tersebut bukan mengenai adanya kerugian yang dialami peserta MMM melainkan menanyakan tentang izin dari kegiatan tersebut.
Meski begitu, masalah MMM tetap menjadi perhatian dari OJK Malang. Iming-iming return 30 return bagi peserta yang membantu peserta lainnya perlu diwaspadai. "Cara investasi yang aman, mengenali perusahaan investasi, baik aspek legalnya maupun produknya," terangnya kepada Malang Post.
Di Malang, peserta MMM sudah menembus  20.000 orang lebih. Dari jumlah peserta sebanyak itu, perputaran uang mencapai Rp 2-3 miliar per hari. Kantor OJK Malang juga akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait cara aman berinvestasi. Hasil akhirnya, masyarakat tidak mudah terperangkap dalam praktik produk investasi yang kurang wajar.
"Target dalam sosialisasi nanti masyarakat umum. Kami akan menyertakan tokoh masyarakat sehingga dapat memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat terkait dengan cara investasi yang benar. Tokoh masyarakat, cara mempengaruhinya terbukti efektif," pungkasnya. (ley/udi)