SNI Produk Elektronik dan Kelistrikan Rawan Dipalsu

JAKARTA - Pemerintah menetapkan beberapa jenis barang dagangan, wajib memiliki sertifikat SNI (standar nasional Indonesia). Tingginya minat pengurusan SNI, akhirnya berujung maraknya peredaran SNI palsu. Badan Standarisasi Nasional (BSN) siap memberantasnya.
 Kepala BSN Bambang Prasetya menuturkan, pengawasan terhadap peredaran SNI di masyarakat memang cukup lemah selama ini. "SNI dikeluarkan oleh BSN. Tetapi BSN sendiri tidak memiliki payung hukum untuk memantau dan menindaknya," kata dia di Jakarta kemarin. Kegiatan pengawasan peredaraan SNI oleh BSN di lapangan selama ini, sebatas pengecekan saja.
 Tetapi Bambang menuturkan, setelah disahkannya UU Standarisasi dan Penilaian Kesesuaian (SPK) Selasa lalu (26/8), upaya BSN mengatasi sertifikat SNI palsu mendapatkan pengakuan. Peneliti madya Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) itu menjelaskan, BSN akhirnya diberi kewenangan mengawasi peredaran SNI di lapangan.
 Deputi Bidang Penelitian dan Kerjasama Standarisasi BSN Kukuh S. Ahmad menuturkan, setelah keluarnya UU SPK itu BSN diberi kewenangan melakukan uji petik sertifikasi SNI. Hasil dari uji petik itu, akan diteruskan ke kementerian teknis, seperti Kementerian Perdagangan (Kemendag) hingga kepolisian untuk penjatuhan sanksi. Di kepolisian, penggunaan SNI palsu bisa masuk kategori pidana penipuan.
 Kukuh menuturkan, selama ini barang-barang yang sering ditemukan ber-SNI palsu adalah perlengkapan kelistrikan dan barang elektronika. "Contohnya kabel, colokan listrik, dan perkakas seperti seterika dan sejenisnya," tuturnya.
 Sertifikat atau logo SNI palsu itu keluar karena pemerintah mewajibkan barang-barang jenis tadi untuk ber-SNI. Alasannya adalah untuk menjamin keselamatan, keamanan, dan kesehatan konsumen. Ketika diwajibkan, semua produsen ramai-ramai mencari cara cepat, mudah, dan murah untuk pengajuan SNI dan akhirnya keluar SNI palsu.
 Kukuh menuturkan hasil peninjauan di sejumlah toko dalam kurun lima tahun terakhir, banyak produk yang berlogo SNI, tetapi ketika dilakukan uji laboratorium ternyata tidak lolos SNI asli. Kasus seperti ini mengarah pada dua dugaan. Pertama, logo atau sertifikat SNI-nya palsu. Kedua sertifikat SNI-nya asli, tetapi uji kelayakannya dilakukan asal-asalan.
 Dia juga menuturkan di lapangan masih banyak produk-produk yang melanggar kewajiban mencantumkan sertifikat atau logo SNI. "Contohnya seperti kabel listrik," paparnya. Padahal SNI pada kabel listri itu jaminan untuk keselamatan konsumen. Produksi kabel listrik yang asal-alasan dan tidak lulus ujia SNI, berpotensi besar menjadi penyebab kebakaran akibat arus pendek.
 Barang lain yang sering ditemukan ber-SNI palsu adalah helm. Kondisi ini diduga muncul karena helm ber-SNI ditetapkan menjadi regulasi resmi oleh kepolisian. Jika tidak menggunakan helm ber-SNI, pengendara motor bisa ditilang. Akhirnya permintaan SNI untuk helm menjadi meningkat. Akhirnya dimanfaatkan oleh penjahat pembuat logo SNI palsu. "Untuk helm resikonya besar sekali. Menyangkut keselamatan di jalan raya," katanya prihatin. (wan/jpnn/feb)