Tarif Listrik dan Angkutan Udara Pengaruhi Inflasi

MALANG – Kota Malang mencatat inflasi sebesar 0,47 persen pada bulan Agustus lalu, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 113,54. Di Jawa Timur, inflasi Kota Malang tercatat tertinggi ke dua setelah Kota Surabaya.
“Enam kota di Jatim mengalami inflasi dan dua kota yang mengalami deflasi. Yakni Jember sebesar 0,06 persen sementara Banyuwangi sebesar 0,12 persen,” ujar Kasi Statistik Badan Pusat Statistik Kota Malang, Erni Fatma Setyo Harini.
Beberapa kelompok yang mempengaruhi inflasi atau deflasi yakni bahan makanan sebesar 0,77 persen, kelompok makanan jadi, minuman, tembakau dan rokok sebesar 0,35 persen. Selain itu, kelompok perumahan, air, listrik dan gas sebesar 0,67 persen. Untuk sandang 0,22 persen, kesehatan 0,18 persen dan pendidikan, rekreasi serta olahraga mencapai 0,47 persen.
Sepuluh komoditas teratas yang mengalami kenaikan harga selama Agustus lalu yakni tarif listrik, angkutan udara, cabai rawit, apel, sewa rumah, udang basah, daging ayam ras, semen, surat kabar harian dan beras.
“Sedangkan yang mengalami penurunan harga seperti telur ayam ras, bawang merah, mujahir, kacang panjang, gula pasir, emas perhiasan, daging sapi, angkutan antar kota, bensin dan melon,” sebutnya.
Tingkat inflasi tahun kalender Agustus 2014 di Kota Malang tercapai 3,04 persen atau turun dibanding periode yang sama 2013 lalu sebesar 3,87 persen. Kelompok bahan makanan pada bulan Agustus 2014 mengalami inflasi 0.77 persen atau terjadi kenaikan angka indeks dari 116.46 pada Juli 2014 menjadi 117.36 pada Agustus 2014 .
Dari 11 sub kelompok dalam kelompok bahan makanan, 9 sub kelompok mengalami inflasi dan 2 sub kelompok mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi pada sub kelompok sayur-sayuran sebesar 2.18 persen, diikuti sub kelompok buah-buahan 2.06 persen, sub kelompok lemak dan minyak sebesar 1.61 persen.
“Sub kelompok bumbu-bumbuan sebesar 1.53 persen, sub kelompok bahan makanan lainnya sebesar 1.46 persen, sub kelompok ikan segar sebesar 1.18 persen, sub kelompok ikan diawetkan sebesar 0.62 persen, sub kelompok daging dan hasil-hasilnya sebesar 0.50 persen, dan sub kelompok padi-padian umbi-umbian dan hasilnya sebesar 0.48 persen,” tambahnya.
Sedangkan 2 sub kelompok yang mengalami deflasi adalah sub kelompok telur, susu dan hasil-hasilnya sebesar 0.92 persen dan sub kelompok kacang-kacangan sebesar 0,02 persen.
Kelompok ini pada Agustus 2014 memberikan sumbangan inflasi sebesar 0.1406 persen. Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi antara lain: cabai rawit sebesar 0.0250 persen, apel 0.0239 persen, udang basah sebesar 0.0225 persen, daging ayam ras dipicu karena permintaan masih tinggi dipengaruhi sudah memasuki musim hajatan.
Beras di minggu terakhir mulai mengalami kenaikan dan memberi andil sebesar 0.0179 persen, kelapa sebesar 0.0134 persen, kentang sebesar 0.0104 persen, cabai merah sebesar 0.0101 persen, semangka sebesar 0.0077 persen, labu siam/ jipang sebesar 0.0075 persen, dll.
Sedangkan komoditas yang memberikan sumbangan deflasi antara lain telur ayam ras sebesar 0.0227 persen, bawang merah sebesar 0.0217 persen, mujair sebesar 0.0120 persen, kacang panjang sebesar 0.0099 persen, daging sapi sebesar 0.0072 persen, melon sebesar 0.0042 persen, nanas sebesar 0.0033 persen, dan nangka muda sebesar 0.0032 persen. (ley/aim)