Pabrik Rokok Kecil Bakal Terus Bertumbangan

MALANG – Forum Masyarakat Industri Rokok Indonesia (Formasi) dan Gabungan Pengusaha Rokok Malang (Gaperoma) sama-sama enggan mengakui dua pabrik rokok yang tercatat kolaps di tahun ini. Pabrik Rokok (PR) tersebut yakni PR Kompas Agung dan PR Dolar Prima Utama yang sudah menutup sementara usahanya sejak awal tahun.
Ketua Formasi, Heri F. Suwandi menyampaikan, bila dua PR tersebut tidak tercatat menjadi anggota organisasinya. "Dua pabrik itu bukan anggota kami, sehingga kami tidak tahu menahu mereka sudah kolaps dari awal tahun,’’ ujarnya.
Menurut dia, bisa jadi kedua PR tersebut tergabung dalam Gaperoma. Sebab, menurut perhitungannya dua pabrik tersebut tercatat memiliki kapasitas produksi yang besar. Sementara, untuk anggota Formasi merupakan industri kecil.
Akan tetapi dia tidak mengelak jika PR sudah banyak yang mengeluh dan kolaps dalam beberapa waktu terakhir. Data dari FORMASI menunjukkan, bila jumlah PR yang tersisa saat ini tinggal sekitar 70 PR saja. Dari jumlah itu, hanya 40 PR yang masih aktif beroperasi dengan serapan tenaga kerja sekitar 25 ribu pekerja.
“Banyak pabrik rokok yang kondisinya kembang kempis. Dari tahun ke tahun terus berguguran. Jumlah saat ini yang tersisa aktif pun hanya 70 persen saja yang termasuk sehat,” sebut dia kepada Malang Post.
Heri mengakui, bila di akhir tahun nanti anggotanya yang aktif dipastikan berkurang bila melihat kondisi terkini. Beberapa faktor yang mempengaruhi seperti melambungnya harga pita cukai rokok, naiknya harga bahan baku seperti cengkeh dan tembakau. Selain itu, pergeseran minat masyarakat terhadap produk hingga regulasi pemerintah juga menjadi pemicu.
Saat ini dari harga satu bungkus rokok, sekitar 70 persen dananya sudah masuk ke negara. Entah untuk cukai hingga pajak daerah. Sisanya, masuk ke pengusaha yang berfungsi untuk operasional, gaji karyawan dan kebutuhan lain. “Untuk pabrik kecil seperti anggota Formasi, keputusan untuk tutup memang jalan terbaik ketimbang terus merugi,” tambahnya.
Dia menyayangkan beberapa regulasi yang menjadi pemicu gulung tikarnya pabrik rokok skala keci dan sedang. Antara lain Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 200/2008. Salah satu peraturannya, sebuah pabrik rokok yang memiliki luas area pabrik di bawah 200 meter persegi.
Sementara itu, Ketua Gaperoma, Johny menuturkan, bila dia juga tidak mengetahui kolapsnya dua PR yang dimaksud. Apalagi, mengenai alasan tutup sementara yang disampaikan kepada Disperindag Kota Malang. “Saya tidak tahu, belum ada laporan juga. Tetapi sepertinya bukan anggota Gaperoma,” terang dia.
Johny pun enggan menjelaskan lebih lanjut mengenai beberapa anggota lainnya yang juga terancam kolaps. Termasuk ancaman buruh yang terpaksa dirumahkan karena pabrik tidak beroperasi. Termasuk ancaman buruh yang terpaksa dirumahkan karena pabrik tidak beroperasi. (ley/aim)