NPL Capai 7,31 Persen, OJK Pantau BPR

MALANG – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang terus memantau perkembangan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Malang, terkait tingginya angka non performing loan (NPL). Hingga akhir Semester 1/2014 lalu, kredit macet BPR menembus 7,31 persen. Hal itu mengharuskan BPR segera melakukan action plan, untuk menurunkan angka NPL. “Kami terus memantau perkembangan bisnis BPR. Termasuk angka NPL yang terhitung tinggi,” ujar Kepala Kantor OJK Malang, Indra Krisna, Rabu (3/9).
Pantauan tersebut juga mewajibkan BPR untuk segera melaksanakan aksi perencanaan yang nyata, agar NPL tidak bergerak naik lagi. Termasuk mengklasifikasikan debitur yang kreditnya macet, agar lebih mudah dalam penanganannya. Di samping itu, juga untuk mengetahui posisi kredit yang diberikan lebih tepat ke depannya. “Masih ada yang mencatatkan kredit untuk pengembangan usaha justru diletakkan di kredit konsumtif. Catatan peruntukkan kredit ini mesti diperbaiki. Itu yang didapat dari pengawasan OJK ke BPR,” beber dia kepada Malang Post.
Hal tersebut, menunjukkan kelemahan sumber daya manusia (SDM) dan menjadi salah satu permasalahan utama bagi BPR. Bila tidak diperbaiki, potensi untuk NPL lebih tinggi lagi akan semakin besar. Ujungnya, BPR juga akan sulit untuk melakukan ekspansi.
OJK mencoba memberikan masukan mengenai pembenahan sektor SDM tersebut. OJK pun sudah meminta BPR untuk mengalokasikan 5 persen keuntungan untuk pengembangan SDM.
“Akan tetapi, angka NPL mencapai 7,31 persen masih belum mengganggu bisnis BPR. Sebab, secara bisnis jualan kredit dari BPR terhitung cepat dan tinggi,” urai Indra panjang lebar.
Hingga akhir Semester I/2014, penyaluran kredit BPR di wilayah kerja Kantor OJK Malang mencapai Rp1,223 triliun atau tumbuh 15,38 persen secara year to date (ytd) dan 14,73 persen secara year on year (yoy). Pertumbuhan kredit BPR sebesar itu, jauh lebih tinggi daripada pertumbuhan kredit bank umum sebesar 3,19 persen (ytd) dan 10,86 persen (yoy) pada periode yang sama.
Namun dari segi nominal, perbedaan sangat jauh karena penyaluran kredit bank umum sampai akhir semester I/2014 mencapai Rp 31,34 triliun. “Jadi walaupun BPR tetap agresif di tengah ekonomi yang lesu, tetap masih aman karena kuenya relatif kecil,” ujarnya.
Menurutnya, untuk kredit BPR, selama ini terfokus dalam membiayai sektor ekonomi mikro dan kecil, sehingga sangat tahan terhadap guncangan ekonomi. (ley/udi)