Faisal Basri: Subsidi BBM Sudah Seperti Kanker

Jakarta - Indonesia masih menanggung beban defisit neraca perdagangan. Terakhir, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia periode Januari-Juli 2014 mengalami defisit US$ 1,02 miliar.
Penyebabnya adalah defisit yang besar pada neraca migas yaitu US$ 7,72 miliar. Padahal, neraca perdagangan non migas mampu membukukan surplus US$ 6,7 miliar.
"Jadi masalah kita bukan hanya BBM (bahan bakar minyak). Impor minyak kita lebih besar dari produksi," tutur pengamat ekonomi Universitas Indonesia Faisal Basri saat diskusi bertema 'Subsidi BBM, Solusi atau Masalah?' di Double Bay Lounge & Dinner, Ibis Budget Hotel Menteng, Jakarta, Minggu (7/9) kemarin.
Dia menjelaskan, penyebab tingginya impor minyak adalah konsumsi yang terus meningkat sementara produksi dalam negeri justru turun.
"Cadangan minyak kita terus turun. Artinya yang kita keruk lebih banyak daripada yang kita dapatkan sumur barunya. Produksi 800 ribu barel per hari, turun. Konsumsi premium naik terus 19 juta KL (kilo liter) pada 2008, 5 tahun kemudian naik jadi 28,9 juta KL," papar Faisal.
Peningkatan konsumsi, lanjut Faisal, adalah akibat dari subsidi yang membuat harga BBM murah. Subsidi BBM ratusan triliun rupiah setiap tahunnya menyebabkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terus menanggung beban berat.

"Ini sudah berwujud kanker. Dia merembet kemana-mana, ke sekujur perekonomian. Bukan hanya soal APBN tapi secara keseluruhan," tegasnya.
Untuk itu, tambah Faisal, perlu dilakukan kebijakan nyata untuk memangkas beban ini. Menaikkan harga BBM bersubsidi bisa menjadi solusi jangka pendek, dan secara jangka panjang harus ada peningkatan produksi minyak dan diversifikasi energi.
"Upaya tingkatkan produksi dalam jangka pendek, sumur-sumur tua digali. Teruskan produksi atau diversiifikasi energi, harga BBM dinaikkan," pungkasnya.
(dtc/aim)