PLN Kehilangan Listrik Hingga 8,63 Persen

TERTIBKAN : PLN Rayon Kota Malang terus menertibkan aliran listrik. Karena masih banyak terjadi pencurian listrik yang merugikan PLN.

MALANG - Perusahaan Listrik Negara (PLN) Rayon Kota Malang mencatatkan angka kerugian (susut) yang terhitung tinggi. Susut aliran listrik tersebut mencapai 8,63 persen hingga akhir Agustus lalu.
Manajer PLN Rayon Kota Malang, Lusia Setyowati Cahyaningtyas menyampaikan, bila perhitungan susut listrik ini didapatkan dari selisih pembelian dengan penjualan yang terjadi.
"Kami beli di gardu induknya berapa Kwh, yang terjual malah lebih rendah. Padahal seharusnya setara," ujarnya.
Menurut dia, Rayon Kota Malang telah membeli ke gardu induk sebesar 17,9 juta Kwh, sesuai dengan yang dikonsumsi pelanggan PLN. Akan tetapi, data konsumsi baru mencapai 16,7 juta Kwh. Artinya, selisih 1,2 juta Kwh hilang karena tangan jahil masyarakat.
Dia mencontohkan, susut tersebut hilang karena terjadi pencurian. Caranya, dengan memasang sambungan listrik sebelum travo. "Biasanya mengambil di aliran sebelum meteran. Otomatis. Besarnya saluran listrik tak terhitung dalam meteran," beber dia.
Dia tidak bisa memastikan siapa yang melanggar.
Misalnya, pada momen Agustusan lalu, tindakan nakal tersebut juga banyak. Sebab masyarakat yang hendak merayakan pesta 17 Agustusan, enggan menyewa genset atau menggunakan sambungan yang normal.
Selain itu susut juga terjadi dengan adanya beberapa aksi pencurian dengan dalih untuk penerangan jalan umum (PJU). Akan tetapi, pengambilan sambungan aliran listrik tidak pada tempatnya, sehingga membuat angka susut di PLN tadi.
Untuk mengatasi itu, PLN juga terus mencari titik pencurian dan membongkarnya. Hasilnya, untuk Juli lalu berhasil mengamankan 55,30 ribu Kwh. Bila dirupiahkan, bisa mencapai Rp 59 juta. "Tergantung besarnya daya yang dicuri juga. Selain itu, voltase dari susut yang terjadi di rumah pelanggan juga berpengaruh," papar dia panjang lebar.
Dia mencontohkan, potensi susut juga berasal dari enggannya pelanggan mengganti alat meteran. "Ada beberapa yang menolak, tetapi tidak semua memang. Padahal, jika alatnya usang bisa jadi sudah tidak bisa berputar alat ukurnya," pungkas dia. (ley/aim)