Dilarang Pemerintah, Talangan Haji Masih Ada

PEMBAYARAN : Bank masih dipercaya calon jamaah haji untuk menyimpan dana untuk berangkat ke tanah suci.

MALANG - Berangkat ke tanah suci untuk menjalankan ibadah haji merupakan dambaan umat muslim di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Tidak peduli dengan biaya yang makin tinggi setiap tahunnya, masyarakat berlomba untuk naik haji demi menjalankan salah satu rukun Islam tersebut. Bahkan, waktu tunggu yang lama juga bukan merupakan halangan untuk mewujudkannya.
Hingga 2014 ini, waktu tunggu untuk masyarakat hendak naik haji kini telah mencapai belasan tahun. Di Jawa Timur misalnya, calon jamaah mesti menunggu hingga 17 tahun ke depan, ketika sudah mendaftarkan diri dan mendapatkan porsi.
"Waktu tunggu memang semakin lama. Bila tahun lalu masyarakat yang mendaftar mesti bersabar 13-15 tahun, pada 2014 ini harus menunggu 17 tahun lagi atau pada tahun 2031," ujar Pemimpin BRI Syariah Malang, Agung Wahyudi Rahardjo.
Menurut dia, lamanya penantian tersebut merupakan resiko berkat membludaknya pendaftaran antara tahun 2010-2013 lalu. Sementara, kuota untuk keberangkatan haji justru dikurangi.
Selain itu, faktor lain yang menyebabkan membludaknya antrian yakni kemudahan untuk naik haji. Bila sekitar 10-20 tahun lalu yang berangkat haji memang masyarakat secara finansial mampu dan telah memiliki dana haji, beberapa tahun terakhir dari setiap lapisan masyarakat memiliki peluang yang besar untuk berangkat ke tanah suci.
"Ada dana talangan haji, yang membantu masyarakat untuk mendaftar, sekalipun belum memiliki dana cukup. Perbankan yang memfasilitasinya," beber dia.
Akan tetapi, mulai tahun ini pemerintah melalui Kementerian Agama mulai melarang adanya dana talangan haji. Secara hukum memang tidak salah, akan tetapi secara fiqih haji tidak benar. "Kami pun menuruti peraturan itu, dengan tidak lagi memberikan dana talangan haji," ujar dia kepada Malang Post.
Menurut pria kelahiran Papua ini, tidak menjadi masalah bagi perbankan syariah seperti BRI Syariah untuk menyalurkan dana talangan haji. Sebagai solusi, masih ada Tabungan Haji untuk membantu masyarakat.
"Tetapi tidak lagi memberikan bantuan talangan. Kami mengajarkan nasabah untuk belajar mempersiapkan naik haji dari jauh hari. Saat ini, mendekati musim haji pasti banyak yang berminat," papar dia panjang lebar.
Terbukti, peminatnya cukup besar untuk nasabah yang mengambil program terus bertambah. Hingga akhir Agustus, outstanding Tabungan Haji di bank yang berpusat di Jalan Kawi tersebut telah mencapai Rp 27 miliar untuk Malang Raya. Sementara, bila seluruh wilayah kerjanya yang mencapai Banyuwangi malah mendekati angka Rp 50 miliar.
Cara mengikuti Tabungan Haji juga layaknya nasabah umum. Buka rekening dengan saldo minimal Rp 50 ribu, maka sudah mendapatkan tabungan untuk kebutuhan rohani tersebut. Perbedaannya hanya pada tabungan tersebut dikunci dan tidak bisa ditarik, kecuali terjadi resiko pada nasabah. Seperti kematian atau kecelakaan, yang benar-benar membutuhkan dana itu.
"Kali ini bank hanya bisa membantu menyimpankan dana saja. Setelah terkumpul sebesar Rp 25 juta, baru kami daftarkan untuk mendapatkan porsi haji. Lebih cepat, lebih baik untuk mendapatkan kejelasan mengenai penantian keberangkatan," tandasnya.(ley/ary)