IHSG Tembus Rekor Tertinggi Sepanjang Masa

PANTAU: Analis saham tengah melihat pergerakan IHSG yang mengalami tren positif di awal pekan ini.

MALANG – Pasar saham tidak perlu menunggu hingga bulan Oktober mendatang, atau bertepatan dengan pergantian presiden untuk menciptakan rekor baru. Sebab, dalam perdagangan Senin (8/9) kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan rekor tertingginya sepanjang masa, dengan mencapai level 5.246 poin setelah naik 29 poin.
Level tertinggi IHSG selama ini tercatat pada periode Mei 2013 lalu, yang mana IHSG berada pada level 5.224 poin. Sementara, untuk catatan intraday, juga melampaui catatan tertinggi 21 Mei 2013 lalu di level 5.251 poin. Sebab, kemarin IHSG sempat menuju level 5.262 poin sebelum terkoreksi 16 poin.
“Pasar saham sudah enggan menunggu lagi peresmian Joko Widodo menjadi Presiden Indonesia untuk mencatatkan rekor tertingginya. Awal pekan ini, sudah terlampaui,” ujar Marketing Manager Reliance Securities Malang, Venus Kusumawardhana.
 “Pagi ini rekor demi rekor telah terjadi di pasar saham. Memang perdagangan sedang kondusif dengan banyak emiten berada di zona hijau,” imbuhnya.
Venus menuturkan, begitu mengawali perdagangan di awal pekan, IHSG menanjak 23,899 poin (0,46%) ke level 5.241,234. Pada penutupan perdagangan Sesi I, IHSG melaju 35,530 poin (0,68%) ke level 5.252,865. “Aksi beli investor sangat ramai sejak pembukaan perdagangan. Kondisi pasar melanjutkan tren positif yang telah berlangsung sejak pekan lalu,” paparnya.
Venus menyampaikan, bila IHSG masih berpeluang menanjak hingga Oktober mendatang. Akan tetapi, dia memberikan warning pula bagi yang telah berinvestasi untuk berhati-hati. Pasalnya, banyak analis yang memprediksi IHSG akan terjun lagi setelah founding investor mulai ‘bosan’ mendapat tugas menaikkan level IHSG.
“Tugas untuk membawa ke level tertinggi kan sudah terjadi. Peluang untuk turun, dalam 1-2 minggu ke depan besar terjadi. Sehingga, bila kondisi harga saham emiten sedang tinggi, ada baiknya untuk dilepas,” urai Venus panjang lebar.
Sementara itu, Branch Manager SucorInvest Abdul Gani Malang, Kartono menyampaikan, pada saat ini penciuman investor akan pasar saham tengah diuji. Bila ingin main aman, melepas beberapa saham yang sedang memiliki daya tawar tinggi jauh lebih baik. “Tetapi tetap harus berspekulasi. Sebab, peluang untuk semakin naik juga tetap besar hingga Oktober nanti,” jelasnya.
Menurut dia, beberapa sektor emiten yang patut menjadi acuan atau pandangan di bulan ini seperti industri, konstruksi, infrastruktur dan jasa. Emiten tersebut diperkirakan memiliki daya jual tinggi, menyesuaikan dengan visi presiden terpilih.
Sementara itu, nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat di posisi Rp 11.725 per dolar AS, dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya di Rp 11.745 per dolar AS.(ley/ary)