Mooncake Meriahkan Mid Autum Festival

MALANG – Kue bulan identik dengan Cina. Di negeri asalnya, mooncake awalnya terkisah pada masa Dinasti Xia dan Dinasti Shang. Dalam tradisi masyarakat Cina kuno yang bersifat ritual, petani memohon pada sang Dewa Bumi agar diberi musim tanam dan panen yang baik. Tradisi ini terus berkembang dan pada bulan purnama, saat yang tepat untuk bersyukur serta berkumpul dengan keluarga dan kerabat sambil menikmati kue bulan yang secara khusus dibuat di musim ini.
Ucapan rasa syukur yang tertuang dalam sebuah mooncake diterjemahan Hotel Tugu Malang dengan menggelar Mid Autumn Festival. “Hotel Tugu yang konsisten memaknai serta sangat menghargai nilai seni, budaya dan sejarah mengajak masyarakat kota Malang, khususnya untuk mengenang kembali sejarah yang terlupakan dengan merayakan Mid Autumn Festival,” ucai Marketing Manager Hotel tugu Malang, Yudha Susanti.
Selama perayaan Mid Autum Festival, Hotel Tugu melalui Melati Restoran dan Und Corner menyediakan mooncake dengan variasi rasa Kacang Hijau Kenari, Kacang Hitam Kenari dan Kacang Teratai Telur.
Berdasarkan cerita dari banyak sumber, kue bulan bukan sembarangan kue karena menyimpan cerita legenda. Dari berbagai versi tentang kue bulan beredar di masyarakat etnis Tionghoa, salah satu versi yang populer adalah, kue bulan ini dibuat pertama kali pada zaman antara Dinasti Yuan dan Dinasti Ming.
Pada saat itu Cina dipimpin oleh raja yang bengis dari Dinasti Yuan. Kekejamannya membuat rakyat ingin membunuhnya. Maka dikirimlah kue yang tipis terbuat dari tepung terigu kepada raja lalim tersebut. Saat itu kue ini masih sangat sederhana. Dan kue yang dikirim bukan sembarang kue, karena bersama dengan kue itu terselip pesan rencana penyerangan terhadap sang raja. Untuk memperingati penyerangan yang kemudian berhasil menciptakan dinasti baru, yakni Dinasti Ming, masyarakat Tionghoa kemudian memperingatinya, tentunya dengan kehadiran kue bulan tersebut.
“Mooncake melambangkan kuatnya arti kekeluargaan, karena pada hari istimewa, semua anggota keluarga berkumpul merayakan keberhasilan panen dengan melakukan sembahyang kepada Tuhan dan Dewa Bumi, dan kemudian dilanjutkan makan kue bulan,” pungkasnya.)fia)