Modal Rp 2 Juta, Kini Beromzet Rp 30 Juta

TEMATIK: Retno bersama boneka-boneka makanan yang didisplay di area workshop miliknya yang berada di kawasan Dinoyo.

KREATIFITAS bisa menghasilkan kemapanan baru saat seseorang memberanikan diri untuk keluar dari comfort zone. Hal itulah yang dirasakan oleh Retno Setyowati, pemilik bendera Boneka Mania. Setelah menyandang status pegawai selama kurang lebih 10 tahun, perempuan berjilbab ini mengambil langkah revolusioner dengan memutuskan berhenti dan memulai usaha sendiri.
Saat berbincang santai dengan Malang Post di rumah workshopnya, anak ketiga dari empat bersaudara ini menceritakan, ide membuat boneka makanan (foody dolls) tercetus pada 2010 lalu. Saat itu, keinginannya untuk membuka bisnis sendiri sangat kuat.
“Sebelum 2010, saya keluar masuk perusahaan. Menjadi karyawan. Terakhir saya bekerja di perusahaan di Denpasar selama 10 tahun,” kenangnya.
Tekad bulat untuk membuka bisnis sendiri dimulai sejak akhir 2010. Berbekal kemampuan menjahit, alumni Universitas Widyagama jurusan Akuntansi ini mencoba membuat boneka makanan yang saat itu belum ada yang membuat.
“Idenya dari kreasi tangan berbentuk makanan dari kain flannel. Saya pikir kalau buat bentuk besar pasti bagus. saat browsing di internet pun belum ada,” terang dia.
Ide kreatifnya pun mulai diwujudkan. Dengan modal dasar sekitar Rp 2 juta, Retno mulai berbelanja bahan seperti kain, dan juga dacron.  Karena belum menguasai pasar, ia pun mengandalkan facebook sebagai etalase penjualan.
“Saya foto kemudian upload ke facebook, tapi waktu itu masih sepi. Nggak ada yang beli,” katanya.
Kesempatan makin terbuka ketika ada tetangga yang menawari ikut pameran di tingkat RT. Dari pameran pertamanya tersebut, Retno pun mendapat tawaran untuk mengikuti event serupa namun skala lebih besar, yaitu tingkat kelurahan.
“Jadi saya ikut pameran itu mulai dari yang kecil sampai besar. awalnya di tingkat RT, kelurahan, kemudian ke bazaar di taman kanak-kanak, ke SMA, kemudian di tingkat universitas, dan masuk mall,” ceritanya.
Pameran, lanjut Retno sejatinya tak banyak memberikan pemasukan. Namun dari situ, banyak orang yang mengenal produknya dan mulai mencari informasi. Setelah semakin banyak yang mengenal, penjualan online di facebook mulai menampakkan hasil. Konsumen berdatangan. Terutama para reseller.
Dari pameran hingga rajin upload di sosial media, Boneka Mania dalam kurun waktu kurang lebih 3 tahun sudah mampu mengumpulkan omzet hingga Rp 30 juta per bulan. “Tahun pertama masih Rp 1 juta per bulan dengan dua orang karyawan. Sekarang Rp 30 juta per bulan dengan 10 orang karyawan,” tutur dia.
Banyak makanan yang sudah ditransfer menjadi bentuk boneka, mulai dari burger, ayam, biskuit, bubur ayam, donat, french fries, telor ceplok, ice cone, soft cake, pie, roll cake, roti tawar, sandwich, onigiri, pancake, lumpur, sushi, rainbow cake hingga macaroon. Rentang harga boneka yang dijual Boneka Mania mulai dari Rp 30 ribu hingga Rp 165 ribu.  
“Dari sekian banyak makanan tersebut, yang paling digemari sampai saat ini adalah boneka burger. Itu adalah boneka yang pertama kali saya buat.bisa dikatakan, burger adalah icon Boneka Mania,”ungkapnya bangga.
Sebagai entrepreneur, Retno sadar kompetitior akan bermunculan, oleh karena itu ia pun berusaha membut inovasi-inovasi. Terbaru, ia membuat car set, bantal foto, dan boneka custom non makanan seperti bentuk teko, gitar, bunga dan gigi.(Shuvia Rahma)

Rahasi Dapur Foody Dolls:
-    Proses produksi awalnya dilakukan di garasi sempit.
-    Keuangan tertata rapi sejak awal melalui neraca keuangan.
-    Hadapi para penjiplak karyanya dengan membuat karya baru.
-    Burger jadi produk best seller.
-    Awali bisnis dengan modal Rp 2 juta,