OJK Kenalkan Asuransi Premi Super Murah

MURAH: Suasana sosialisasi asuransi murah yang ditujukan untuk masyarakat dengan premi bulanan tak sampai Rp 50 ribu.

MALANG – Masih belum banyak masyarakat di Indonesia yang belum mengikuti asuransi dan mendapatkan cover ke depan bila terjadi sesuatu hal seperti kecelakaan kerja atau pun sakit. Sehingga, perlu usaha dari pemerintah atau pun penyedia jasa asuransi untuk menawarkan asuransi yang menarik agar semua lapisan masyarakat tertarik  dan mau mengenal asuransi. Salah satunya dengan adanya produk asuransi mikro, yang memungkinkan nasabah untuk membayar premi dengan sangat rendah, kurang dari Rp 50 ribu per bulan.
Direktur Industri Keuangan Non Bank Otoritas Jasa Keuangan, M. Muchlasin menyampaikan, pengembangan asuransi mikro bertujuan utama untuk memasyaratkan asuransi kepada masyarakat.
“Saat ini, yang mengenal asuransi masih sedikit. Bila dilihat dari segi kelas sosial, kalangan menengah ke atas saja yang mau perhatian akan asuransi,” ujarnya, di sela-sela Sosialisasi
Produk Asuransi Mikro, di UPT Latkesmas Murnajati, Lawang, Selasa (30/9) kemarin.
Menurutnya, berdasarkan data, untuk saat ini sekitar 77 juta warga Indonesia belum memiliki tabungan atau asuransi jika suatu saat terjadi hal buruk yang menimpa. Sementara itu, untuk pemilik polis asuransi di Indonesia hanya di kisaran 67 orang.
“Dari data itu bisa dilihat, perkiraan kami ada 190 juta penduduk yang belum memilik perlindungan asuransi apabila terjadi resiko. Baik untuk jiwa maupun harta benda,” beber dia kepada Malang Post.
Pria yang akrab disapa Muchlas tersebut menuturkan, sebagian besar yang belum mengikuti asuransi  merupakan masyarakat berpenghasilan rendah. Entah mereka belum mengenal, atau enggan mengenal, karena produk terasa kurang menarik.
“Terutama menyangkut biaya. Sebab, pemahaman masyarakat mengenai asuransi masih minim, dan menganggap orang dengan uang lebih saja yang mengikutinya,” papar dia panjang lebar.
Untuk itulah, asosiasi asuransi di Indonesia dan OJK mencoba mendorong ketersediaan asuransi mikro yang sesuai dengan kebutuhan serta kemampuan, terutama bagi yang berpenghasilan rendah. Di samping itu, OJK dan perusahaan asuransi juga memiliki tugas untuk mengenalkan produk tersebut.
Saat ini, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) dan Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) telah memiliki produk tersebut. “Kami coba kenalkan hari ini (kemarin) pada masyarakat, terutama lembaga mikro seperti koperasi atau gabungan kelompok tani,” sebutnya.
Menurut Muchlas, asosiasi asuransi dengan dukungan OJK telah membuat produk standar asuransi mirko dana suransi mikro syariah. Paling utama, jumlah premi tidak lebih dari Rp 50 ribu per bulan. Premi yang murah itu, masyarakat sudah mendapat pilihan manfaat sesuai dengan yang ditawarkan.
Misalnya untuk produk untuk AAJI, dengan nama Asuransi Mikro Penuh Cinta (Si Peci). Pertanggungan yang diberikan seperti meninggal karena sakit dan atau karena kecelakaan. Menurutnya, Si Peci tidak diposisikan sebagai warisan bagi keluarga, tetapi lebih sebagai santunan tunai.
Sementara itu, produk dari AAUI seperti Asuransiku, Warisanku, Rumahku dan Stop Usaha Gempa Bumi serta Stop Usaha Erupsi. Menurut Muchlas, untuk Asuransiku akan dipasarkan dalam program Si Pintar. Untuk sektor syariah pun tidak ketinggalan. AASI mengeluarkan produk Si Bijak. Sesuai dengan prinsipnya, asuransi ini menghilangkan unsur riba, perjudian (masyir), dan ketidakjelasan (gharar).
Dia menyebutkan, untuk memudahkan pengenalan produk asuransi mikro dan aksesnya kepada masyarakat, pemasaran akan dibuat langsung. Caranya dengan kerjasama instansi atau lembaga terkait seperti Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Antara lain koperasi, BPR, BPRS, lembaga kredit desa, credit union maupun institusi lain seperti PT Pos dan Gapoktan. (ley/fia)