Kenaikan LPG Tak Pengaruhi Inflasi

NAIK: Kenaikan LPG 12kg membawa pengaruh kecil terhadap kenaikan angka inflasi Kota Malang sepanjang September.
 
MALANG – Kenaikan sejumlah komoditas sepanjang September tidak membawa pengaruh signifikan terhadap pergerakan inflasi di Kota Malang. Berdasarkan laporan inflasi yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), Malang mencatatkan angka inflasi sebesar 0.26 persen. Indeks kenaikan harga tertinggi terjadi di Surabaya dan Jember, yaitu sebesar  0.41 persen.
Adapun Tingkat inflasi tahun kalender (September) 2014 sebesar 3.30 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (September 2014 terhadap September 2013) sebesar 4.57 persen.
Kasi Statistik dan Distribusi BS Kota Malang, Erny Fatma Setyoharini menjelaskan, dari delapan kota Indeks Harga Konsumen (IHK) semuanya mengalami inflasi. Catatan indeks kenaikan harga terendah dicapai oleh Probolinggo yaitu sebesar 0.04 persen.
Erny menjelaskan, sepanjang September, bebeberapa komoditas memang mengalami kenaikan, namun karena jenis komoditas memiliki prosentase pengguna kecil, maka pengaruh terhadap angka inflasi juga rendah.
“September lalu memang ada kenaikan harga LPG 12 kg, namun prosentase penggunanya kecil dibandingkan LPG 3kg. Komposisinya 31 persen banding 69 persen. Karena sedikit, jadi bobot penimbang dari LPG 12 kg juga kecil,” rinci dia.
Tahun ajaran baru dan penerimaan mahasiswa baru menurut perempuan berjilbab ini memang membawa pengaruh, namun sama seperti LPG, prosentasenya tak terlalu besar. Biaya pendidikan dari Sekolah Dasar (SD) menurut Erny stabil berkat adanya program sekolah gratis, sementara  sekolah swasta tak berani menaikkan biaya karena SD negeri gratis.
“Dari SMP memang ada kenaikan, tapi kecil. hanya 0,9 persen. Itu pun dari sekolah swasta, karena yang negeri juga gratis,” imbuh Erny.
Pengaruh dari sektor pendidikan juga terlihat dari SMA yang mengalami kenaikan sebesar 5,6 persen sedangkan universitas naik 2,5 persen. Angka tersebut dinilai tidak terlalu besar karena mulai tahun lalu telah diberlakukan Uang Kuliah Tunggal (UKT) sehingga kenaikan tidak terlalu signifikan.
“Jelang Idul Adha juga berpengaruh, namun tidak seheboh Idul Fitri karena tidak ada cuti bersama, apalagi kalender libur pas hari Minggu,” paparnya.
Adapun sepuluh komoditas teratas yang mengalami kenaikan harga pada September 2014 antara lain semen, cabai merah, akademi/ perguruan tinggi, Sekolah Menengah Atas, Bahan Bakar Rumah Tangga, beras, sewa rumah, tahu mentah, kontrak rumah dan upah pembantu rumah tangga.
Sedangkan sepuluh komoditas yang mengalami penurunan harga yaitu bawang merah, angkutan udara, emas perhiasan, kelapa, angkutan antar kota, cabai rawit, telur ayam ras, gula pasir, apel dan tarif kendaraan travel.(fia)