Politik Tak Pasti Lantai Bursa Tak Bergairah

MALANG – Ketidakpastian peta politik berimbas pada transaksi di lantai bursa. Banyak investor yang memilih wait and see. Hal ini terlihat dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ke level 5.000 setelah rebound 50 poin. Aksi beli selektif investor membuat Indeks positif di tengah perdagangan yang sepi.
Manager Marketing PT Reliance Securities Cabang Malang Venus Kusumawardana menjelaskan, pasar saham saat ini diselimuti dengan ketidakpastian. Setelah menunggu hasil pilkada, pilpres dan hasil kebijakan DPR terkait pemilihan kepada daerah, kini investor masih harus menunggu keputusan rapat paripurna yang memutuskan ketua MPR.
“Pasar juga masih menunggu pelantikan presiden dan kabinet serta program kerja ke depan,” terang Venus kepada Malang Post.
Pada perdagangan pembukaan kemarin (6/10) pagi, IHSG berada pada posisi 4.968. ada 135 saham yang turun, 91 naik dan 111 stagnan. Saham-saham yang pekan lalu jatuh kini mulai bangkit berkat aksi beli. Hanya saham-saham konsumer yang masih ketinggalan di zona merah.
“Saham-saham blue chip rata-rata naik. Seperti Astra, Indofood, Unilever, dan BRI. Kebanyakan BUMN,” rinci pria ramah ini.
Venus menduga, kenaikan saham-saham tersebut disebabkan adanya usaha dari para pemegang saham untuk menopang agar IHSG tidak semakin terpuruk hingga di bawah level 5000. Beberapa investor asing masih ada yang melepas saham, berlainan dengan investor domestik yang mulai melirik saham-saham unggulan. Titik tertinggi IHSG kemarin ada di level 5.006,339.
Menutup perdagangan awal pekan, IHSG melaju 50,792 poin (1,03 persen) ke level 5.000,138. Sementara Indeks LQ45 menanjak 11,587 poin (1,39 persen) ke level 845,502. Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah di posisi Rp 12.205 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu di Rp 12.160 per dolar AS.
Perdagangan kemarin berjalan sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 172.177 kali dengan volume 3,8 miliar lembar saham senilai Rp 3,8 triliun. Sebanyak 160 saham naik, 133 turun, dan 66 saham stagnan.(fia)