Dewi Sekartaji Hadir di Malam Budaya Hotel Tugu

MALANG - Hotel Tugu Malang menelurkan strategi unik untuk menggoda tamunya. Hotel yang berada di samping Balai Kota Malang tersebut menggelar malam budaya secara rutin setiap Rabu malam. Mulai Rabu (15/10/14) kemarin, digelar Indonesia Cultural Dining Series di Ruang Tirta Gangga.
 Marketing Manager Hotel Tugu Malang Yudha Susanti menyampaikan, malam budaya tersebut merupakan usaha terbaru bagi hotel untuk menggaet tamu, di tengah persaingan hotel yang sangat ketat di Malang. “Program ini sesuai dengan misi hotel, yang memperhatikan aspek cultural dalam mengelar promosi,” ujarnya.
Menurut dia, Indonesia Cultural Dining Series ini melibatkan para pecinta sekaligus pelaku seni tari di Kota Malang. Tujuannya, menggali dan mengeksplore ragam tari tradisional untuk dapat dinikmati dan lebih dikenal  oleh masyarakat maupun wisatawan asing.
“Setiap Rabu malam pasti ada acara ini. Sebab Hotel Tugu ingin mengobati  rindu akan pertunjukan budaya dengan jadwal dan tempat yang rutin serta dapat diagendakan,” papar dia kepada Malang Post.
Dia mengakui, acara ini juga bermanfaat untuk para pelaku seni tari klasik kota Malang. Mereka akan mendapat tempat dan penikmat  yang lebih dari memadai untuk dapat mengekspresikan rasa seni dan cinta mereka akan seni tari. Sebab, sesuai dengan pengakuan Yudha, sasaran penikmatnya juga wisatawan asing.
“Baik yang stay di Hotel Tugu maupun di tempat lain, yang ternyata mereka juga haus akan pertunjukan budaya,” tambahnya.
Tidak hanya sekadar pertunjukan sendratari, kegiatan tersebut mengemas pertunjukan budaya dengan santap malam dalam suasana elegan. Dalam pertunjukan perdana semalam, sendratari Topeng Malang mengangkat tema yang sangat familiar berjudul Dewi Sekartaji. Topeng Malang merupakan kesenian tari topeng dari daerah Malang, yang biasanya membawa cerita yang berasal dari kisah  Panji. Sajian ini menceritakan tentang kisah percintaan Raden Panji Asmoro Bangun (Inu Kertapati) dengan Putri Sekartaji (Chandra Kirana).
Untuk melengkapi "cultural evening" ini,  santap malam akan disajikan dengan eksplorasi hidangan khas setempat dengan cita rasa otentik. Acara ini semakin sempurna karena berlangsung di ruang Tirta Gangga. Sebuah ruang makan ekslusif yang diciptakan dengan memadukan atmosfer barat dan timur. Ruangan  ini didesain untuk menghadirkan kembali masa kejayaan 'Jalur Sutra' dan 'Jalur Rempah'.
Menurut Yudha, kegiatan khas ini diselenggarakan untuk menjadi daya tarik bagi konsumen dan semakin mengenalkan Hotel Tugu yang intens mengangkat budaya. “Kami harus jeli memanfaatkan peluang, seperti menjual makanan dan minuman dengan memadukan seni budaya,” ujarnya.
Menurut dia, kontribusi food and beverages pada bisnis Hotel Tugu mencapai 30 persen lebih. Untuk itulah, masalah F and B ditangani secara serius. Pada program ini, hotel mematok 30-40 pack paket akan terjual dalam satu kali gelaran. Harga dari paket Indonesia Cultural Dining Series ini dibandrol Rp 200 ribu per pack. (ley/oci)